Beransur, Batam – Kondisi nilai tukar rupiah yang tengah mengalami tren pelemahan terhadap beberapa mata uang asing membawa dampak ganda yang cukup signifikan di dalam negeri. Di satu sisi, situasi ini menekan daya beli masyarakat domestik. Namun di sisi lain, fenomena ini justru menjadi daya tarik tersendiri yang membuat Indonesia kian memikat bagi para wisatawan dari negara tetangga. Bagi para pelancong asing, penurunan nilai tukar Rupiah dirasakan layaknya musim diskon besar-besaran.
Berdasarkan data grafis yang dilansir dalam siaran SCTV, nilai tukar mata uang Ringgit Malaysia (MYR) tercatat setara dengan Rp4.457, sementara Dolar Singapura (SGD) menyentuh angka Rp14.055. Kekuatan mata uang asing ini membuat nilai barang dan jasa di Indonesia terasa jauh lebih murah bagi kantong warga negara jiran.
Kota Batam, yang secara geografis berbatasan langsung dengan Selat Singapura dan Malaysia, menjadi wilayah yang paling merasakan dampak lonjakan kunjungan ini. Jarak geografis yang dekat serta kemudahan akses transportasi laut menjadi faktor utama mengapa Batam kini dipadati oleh turis asal Malaysia dan Singapura. Mereka datang tidak lagi sekadar untuk berlibur menikmati akhir pekan.
Fenomena menarik yang terjadi saat ini adalah beralihnya tujuan wisata menjadi aktivitas belanja kebutuhan pokok (grocery shopping). Dengan kurs rupiah yang melemah, para turis asing menganggap harga-harga komoditas harian, kuliner, hingga layanan jasa di Batam menjadi sangat terjangkau jika dikonversikan ke mata uang mereka. Mereka dapat membeli berbagai kebutuhan pokok hingga barang-barang konsumsi lainnya dengan harga yang jauh lebih murah dibanding di negara asal.
”Di tengah melemahnya rupiah dan daya beli masyarakat yang tertekan, Indonesia justru semakin menarik bagi wisatawan dari negara tetangga. Batam, menjadi tujuan favorit warga Malaysia dan Singapura untuk berlibur hingga berbelanja kebutuhan pokok,” tulis laporan Liputan6.
Saat nilai tukar rupiah melemah, biaya yang harus dikeluarkan wisatawan asing untuk berlibur di Indonesia menjadi relatif lebih murah. Dengan mata uang yang lebih kuat, wisatawan memiliki daya beli yang lebih tinggi sehingga dapat membelanjakan lebih banyak uang selama berada di destinasi wisata Indonesia.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, mengatakan dampak penguatan mata uang asing terhadap rupiah perlu dilihat dari berbagai sudut pandang. Menurutnya, salah satu peluang yang muncul adalah peningkatan kunjungan wisatawan dari negara-negara sekitar Indonesia.
“Kita harus mengurai persoalan ini. Dari sisi wisatawan mancanegara, kondisi rupiah yang tertekan tentu membuat daya beli mereka menjadi lebih kuat saat berada di Indonesia,” kata Maulana seperti dikutip detikJabar dari CNBC Indonesia, Kamis (4/6/2026).
Salah seorang warga Singapura yang tengah berkunjung, Fahri Hafiz, membenarkan situasi tersebut.
”Belanja banyak bisa, banyak beda (selisih harganya). Di sana (Singapura) lagi mahal,” ujarnya saat ditemui di salah satu pusat kuliner di Batam.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per April 2026, jumlah kunjungan turis asing ke Indonesia secara keseluruhan telah mencapai 1,2 juta kunjungan. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan hampir 15 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Batam menjadi salah satu pintu masuk utama yang mencatatkan kenaikan volume pengunjung internasional secara masif, khususnya di area pusat perbelanjaan dan pasar modern.
Bagi para pelaku industri pariwisata, perhotelan, hingga pedagang retail di Batam, situasi ini menjadi angin segar yang mampu menggerakkan roda perekonomian lokal di tengah lesunya daya beli masyarakat dalam negeri.
Meski pergerakan nilai tukar Rupiah belum menunjukkan tanda-tanda penguatan yang berarti, setiap Rupiah yang dibelanjakan oleh para turis asing ini memberikan dampak positif langsung bagi perekonomian dalam negeri. Pemerintah daerah dan pelaku usaha kini diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini dengan bijak. Langkah strategis yang perlu diambil adalah tetap menjaga kestabilan harga barang serta terus meningkatkan kualitas pelayanan.
Menurut Maulana, negara-negara ASEAN berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kondisi nilai tukar saat ini. Selain memiliki mata uang yang relatif lebih kuat, jarak geografis yang dekat juga menjadi faktor penting yang mendorong mobilitas wisatawan.
“Mungkin yang akan diuntungkan adalah wisatawan dari negara-negara terdekat seperti Singapura, Malaysia dan negara ASEAN lainnya. Mereka bisa memilih Indonesia sebagai tujuan perjalanan karena lebih dekat,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Singapura dan Malaysia memang menjadi dua negara penyumbang wisatawan mancanegara terbesar ke Indonesia. Destinasi seperti Bali, Batam, Bintan, Jakarta, Yogyakarta, hingga berbagai kawasan wisata di Sumatera dan Kalimantan menjadi tujuan favorit wisatawan dari kedua negara tersebut.
Hal ini penting agar Batam tidak hanya menjadi destinasi belanja sesaat akibat anjloknya kurs, melainkan tumbuh menjadi tujuan wisata belanja yang berkelanjutan di masa depan.
Selain berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan, pelemahan rupiah juga diperkirakan dapat meningkatkan pengeluaran wisatawan selama berada di Indonesia.
Wisatawan yang datang dengan mata uang yang lebih kuat cenderung memiliki anggaran belanja yang lebih besar untuk menikmati berbagai layanan wisata maupun membeli produk lokal.
“Dari sisi spending tentu menguntungkan. Mereka memegang mata uang yang lebih kuat sehingga pengeluaran mereka di Indonesia menjadi lebih besar dibanding sebelumnya,” kata Maulana.
Meski demikian, PHRI mengingatkan bahwa peningkatan jumlah wisatawan tidak serta-merta akan berdampak langsung terhadap tingkat hunian hotel atau okupansi.
Menurut Maulana, terdapat sejumlah faktor lain yang memengaruhi distribusi wisatawan selama berlibur di Indonesia. Salah satu yang masih menjadi perhatian adalah maraknya akomodasi tidak resmi atau akomodasi liar di sejumlah destinasi wisata.
Kehadiran akomodasi nonformal tersebut membuat sebagian wisatawan memilih menginap di luar jaringan hotel resmi, sehingga peningkatan jumlah wisatawan belum tentu sepenuhnya tercermin dalam data okupansi hotel.
“Bisa saja ada dampak ke okupansi hotel jika wisatawan meningkat. Tetapi kita juga harus melihat persoalan akomodasi liar yang sampai sekarang masih menjadi isu di berbagai daerah tujuan wisata,” sebut Maulana.
#beransurmedia #rupiah #melemah #hotel #turis #asing #liburan #destinasi #wisatawan #batam
