Beransur, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Maret 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp240,1 triliun. Angka ini setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

​Meski angka defisit menunjukkan tren peningkatan dibandingkan periode sebelumnya, Menkeu menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah sebuah kelalaian, melainkan hasil dari strategi fiskal yang direncanakan secara sadar untuk menstimulasi ekonomi lebih awal.

​Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (6/4), Purbaya menjelaskan bahwa lonjakan defisit merupakan konsekuensi logis dari kebijakan pemerintah yang mempercepat realisasi belanja sejak kuartal pertama.

​“Itu kan defisit yang membesar, kenapa? Karena kami percepat belanja pemerintah. Saya ingin menciptakan belanja yang lebih merata sepanjang tahun, supaya dampak ekonominya lebih optimal,” ujarnya dalam konferensi pers Kebijakan Transportasi dan BBM di kantornya, Senin (6/4).

​Dengan mendistribusikan belanja secara merata, pemerintah optimis stimulasi pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih cepat oleh masyarakat dan pelaku usaha. Purbaya juga menekankan bahwa meski belanja negara penting, motor penggerak utama tetaplah sektor swasta yang mendominasi 90% aktivitas ekonomi nasional.

​Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi belanja negara hingga Maret 2026 mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 620,3 triliun yang hanya tumbuh 1,4% yoy.

Penyerapan belanja juga meningkat menjadi 21,2% dari total pagu APBN, di atas rata-rata historis sekitar 17%. Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% yoy, ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat 20,7% yoy. Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% yoy, ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat 20,7% yoy. 

Hampir seluruh komponen belanja mengalami kenaikan, namun alokasi untuk Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi sorotan utama. Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut sebagai pos belanja yang paling signifikan meningkat karena nilai anggarannya yang sangat besar.

“Yang paling menonjol ya BGN, karena memang anggarannya besar,” kata Purbaya.

​Kendati mendorong percepatan, Menkeu Purbaya memberikan peringatan keras kepada seluruh Kementerian dan Lembaga (K/L) agar tetap menjaga kualitas penggunaan anggaran. Ia menegaskan tidak akan segan untuk menghentikan pembayaran jika ditemukan dana yang digunakan tidak efektif.

​”Kalau belanjanya ‘ngawur-ngawuran’, kita beri peringatan. Jika tetap diteruskan, saya bisa pastikan bahwa tagihan tersebut tidak akan saya bayar. Saya bisa melakukan itu,” tegasnya. Mekanisme pengendalian ini diklaim telah sukses diterapkan pada tahun anggaran 2025 lalu.

Selain itu, Purbaya juga mencontohkan pengelolaan fiskal tahun 2025 yang dinilai lebih baik dari perkiraan. Defisit APBN yang sebelumnya diproyeksikan sebesar 2,91% terhadap PDB, berpotensi turun menjadi sekitar 2,8% setelah audit.

“Sekitar 90% ekonomi itu ditopang oleh sektor swasta. Selama kita bisa menjaga iklim investasi dan pertumbuhan sektor privat, ekonomi akan terus membaik,” kata dia.

Menkeu kembali menyorot pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 yang tercatat tumbuh 5,39% dan diprediksi mencatatkan angka lebih tinggi di kuartal I/2026. Bahkan dengan mempertimbangkan berbagai indikator makro dan angka pertumbuhan di sektor riil, Purbaya meyakini ekonomi dapat tumbuh di atas 5,5%.

“Kalau ekonominya bagus, pendapatan saya bagus. Nanti uang yang saya bagi ke kementerian juga lebih konsisten,” pungkasnya.

Terakhir, Purbaya juga menekankan pemerintah terus berupaya menjaga sektor swasta untuk tumbuh lebih baik, dengan memastikan investasi terus berjalan salah satunya melalui kanal debottlenecking.

“Jadi misalkan saya tidak bisa ekspansi habis-habisan pun, selama saya bisa jaga sektor private-nya tumbuh dengan baik, ke depan ekonomi akan terus membaik,” imbuhnya.

#beransurmedia #purbaya #menkeu #kemenkeu #sorotan #defisit #APBN #ekonomi #MBG #pendapatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *