Beransur, ​Jakarta, 4 Juni 2026 – Pasar keuangan domestik kembali diguncang sentimen negatif. Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Ini menjadi level kurs rupiah paling lemah sepanjang sejarah Indonesia. Kejatuhan mata uang Garuda ini juga diikuti oleh pelemahan pasar saham domestik yang kini menyentuh level terendah dalam hampir enam tahun terakhir.

​Berdasarkan data pasar spot pada Kamis (4/6), kurs rupiah ditutup melemah Rp 82 atau 0,46% ke level Rp 18.049 per dolar AS.
Senada, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga merosot Rp 108 atau 0,60% ke posisi Rp 18.039 per dolar AS. Merujuk data Bloomberg, rupiah bahkan sudah menunjukkan tajinya yang melemah sejak Kamis pagi di level Rp 18.027 per dolar AS, atau turun 0,34% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Secara tahun kalender berjalan (year-to-date), rupiah telah terdepresiasi sebesar 8,08%.

​Aksi jual massal oleh investor dipicu oleh meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi penurunan outlook dan peringkat utang Indonesia. Keuangan negara kian terbebani oleh tingginya harga minyak dunia.

Chief Economist Bank Tabungan Negara Myrdal Gunarto menjelaskan, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga sejumlah kondisi di dalam negeri. Mengutip data Bloomberg, pada Kamis (4/6/2026) pukul 09.30 WIB, kurs USD IDR berada di level Rp 18.028 per dollar AS, melemah 62 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Menurut Myrdal, tekanan terhadap rupiah hari ini berasal dari kombinasi keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia, berkurangnya pasokan valuta asing (valas) domestik, hingga meningkatnya ketidakpastian global.

Di sisi lain, kekhawatiran pelaku pasar terkait adanya intervensi pemerintah pada ekspor komoditas membuat investor cenderung menahan diri. Salah satu faktor utama yang menekan harga dolar hari ini terhadap rupiah adalah perpindahan dana investor global dari negara berkembang (emerging market) ke negara maju (developed market).

Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia, investor cenderung mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman.

“Makanya kita lihat indeks di negara-negara maju, untuk indeks saham ya, banyak yang all time high. Dan kalau kita lihat kondisi ini merupakan refleksi dari aksi investor untuk cari aman di tengah kondisi global geopolitik yang kurang kondusif,” ujarnya kepada media, Rabu (3/6/2026).

Selain kondisi global, investor asing juga disebut memperhatikan sejumlah perkembangan kebijakan di dalam negeri.

“Baik itu ada sorotan dari lembaga rating ataupun juga adanya sorotan dari investor global mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah yang terbaru,” ucapnya.

​Dinamika ini diperparah oleh derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan serta Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, total capital outflow sepanjang Januari hingga Mei 2026 telah mencapai Rp 69,5 triliun. Myrdal mengungkapkan, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai sekitar 478,5 juta dollar AS. Sementara pada Selasa (2/6/2026), arus keluar dana asing masih berlanjut sebesar 78,13 juta dollar AS.

Ia juga menyoroti aksi jual investor asing pada 28 Mei 2026 yang banyak terjadi pada saham-saham konglomerasi dan saham yang terkait dengan penyesuaian komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

“Terutama untuk saham-saham konglomerat ataupun juga saham-saham yang terkait dengan pelepasan posisi MSCI,” kata Myrdal.

​Pelemahan ini menempatkan rupiah ke dalam kelompok mata uang berkembang Asia dengan performa terburuk setelah melemah lebih dari 7% sepanjang tahun 2026. Tekanan serupa juga dialami oleh sejumlah mata uang Asia lainnya, seperti:
​Ringgit Malaysia: melemah 0,50%, Dolar Taiwan: melemah 0,12%, Won Korea: melemah 0,10%, Rupee India: melemah 0,06%, ​Dolar Singapura: melemah 0,02%

​Sebaliknya, beberapa mata uang Asia justru berhasil menguat terhadap dolar AS, di antaranya Baht Thailand (+0,25%), Peso Filipina (+0,20%), Yen Jepang (+0,11%), serta Yuan China dan Dolar Hong Kong yang masing-masing menguat tipis 0,02%.

Adapun Indeks Dolar AS (DXY) hari ini sebenarnya melemah 0,16% ke level 99,37, yang mengindikasikan bahwa pelemahan rupiah kali ini sangat dipengaruhi oleh faktor domestik.

​Menanggapi gejolak pasar ini, Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengimbau para investor agar tetap tenang dan mengambil keputusan investasi secara rasional dengan memperhatikan fundamental keuangan serta profil risiko masing-masing.

​Jeffrey menegaskan bahwa fundamental emiten di pasar saham Indonesia saat ini sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat baik. Hingga akhir tahun 2025, seluruh perusahaan tercatat membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21%.

​Tren positif ini berlanjut pada triwulan I-2026. Kelompok saham berlikuiditas tinggi dan berkapitalisasi besar (LQ45) mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga 29,9% secara tahunan (year-on-year).

​”Kemudian, kalau kita lihat distribusi laba bersih per triwulan I-2026 dari seluruh perusahaan tercatat yang ada, 80 persen membukukan laba bersih. Ini adalah persentase tertinggi lima tahun terakhir,” ujar Jeffrey di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

​Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 hanya ada 63% perusahaan yang mencetak laba, sementara pada periode 2021–2025 angkanya berkisar antara 73–76%.

​Guna meredam volatilitas, BEI memastikan kebijakan pembelian kembali saham (buyback) serta regulasi penundaan atau pelarangan short selling yang berlaku sejak tahun lalu masih tetap berjalan.

Ke depan, para ekonom menilai arah pergerakan USD IDR masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik global, arus modal asing, harga minyak dunia, serta kondisi pasokan valas di dalam negeri. Ariston menegaskan, peluang penguatan rupiah akan lebih terbuka apabila ketegangan antara AS dan Iran mereda.

“Kuncinya di perdamaian AS Iran untuk memicu pelemahan dollar AS,” sebut dia.

#beransurmedia #dolarAS #dolar #amerikaserikat #BEI #IDR #USD #rupiah #melemah #naik #nilaitukarrupiah #nilaitukaruang #geopolitikdunia #ekonomi #perdamaian #beransur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *