Beransur, Kabupaten Bekasi, 6 Desember 2025 – Nelayan di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, kini beralih menggunakan elpiji tiga kilogram (kg) bersubsidi atau gas melon untuk menggerakkan mesin perahu saat mencari ikan di laut.

Endang (51) Ketua Kelompok Nelayan Pantai Bahagia, mengungkapkan bahwa ada sekitar 400 nelayan di desanya telah beralih dari bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Pertalite ke elpiji tiga kilogram sejak tiga bulan terakhir.

Para nelayan juga di berikan edukasi pemasang konverter gas pada mesin perahu. Menurut Endang, penggunaan gas melon terbukti mampu menghemat biaya operasional para nelayan.

“Sekarang cari hematnya. Cari ikan semakin jauh, air laut sudah tidak sehat. Mayoritas sudah beralih pakai tabung semua di sini,”ucap Endang, Kamis (4/12).

Meskipun aktivitas melaut terus berjalan, semangat mereka kini terbebani oleh kenaikan biaya operasional yang tidak terduga. Para nelayan mengeluhkan tingginya harga elpiji melon yang mereka beli di warung, yakni mencapai Rp25 ribu per tabung. Harga tersebut berada di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp18.750.

“Kalau dibandingkan di daerah-daerah lain gas di sini cukup mahal karena kita dapatnya eceran dari warung-warung kecil. Akses jalannya rusak, kendaraan juga mikir-mikir untuk kirim,” katanya.

Kerusakan jalan menuju Desa Pantai Bahagia juga menjadi faktor terhambatnya suplai elpiji maupun BBM terutama saat musim hujan. Jalan berlumpur menyebabkan kendaraan pengangkut sulit masuk, bahkan tak jarang tidak dapat melintas sama sekali. Jalur laut pun menjadi alternatif utama para nelayan untuk memenuhi kebutuhan gas tiga kilogram maupun BBM.

“Kalau cuaca lagi rusak atau banjir, kendaraan nggak bisa lewat. Jadi gas dan BBM nggak bisa masuk,” tuturnya.

Manfaat penggunaan elpiji juga dirasakan oleh Saprudin (43), nelayan setempat. Ia mengatakan bahwa elpiji jauh lebih irit dibandingkan Pertalite. Satu tabung elpiji melon bisa dipakai hingga tiga hari jika jarak tempuh tidak terlalu jauh. Menurutnya, satu tabung elpiji setara dengan sekitar enam liter Pertalite.

“Karena lebih irit daripada bensin. Satu tabung bisa dipakai sampai tiga hari kalau jaraknya tidak terlalu jauh,” terang Saprudin.
Saprudin menambahkan, harga Pertalite di warung kawasan pesisir mencapai Rp14 ribu per liter. Jika menggunakan bensin, sekali melaut ia harus mengeluarkan sekitar Rp100 ribu.

Pemerintah dan aparat terkait perlu segera meningkatkan pengawasan serta menindak tegas oknum-oknum yang menimbun atau menjual Elpiji subsidi di atas HET.

Kesejahteraan nelayan dan stabilitas harga bahan bakar bersubsidi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Jeritan nelayan ini adalah alarm bagi kita semua tentang pentingnya distribusi energi yang adil dan merata.

#beransur #nelayan #stabilitas #bahan #bakar #gas #lpg #3kilo #jeritan #kesejahteraan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *