Beransur, Kendari – Memasuki hari ketiga sejak hujan deras mengguyur Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, jumlah warga yang terdampak banjir terus merangkak naik. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari pada Senin (11/5/2026), tercatat sebanyak 797 unit rumah terendam dan 3.517 jiwa terdampak yang tersebar di tujuh kecamatan.

​Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan data pada akhir pekan lalu (9-10 Mei 2026), di mana jumlah terdampak berada di angka 2.985 jiwa dan 657 unit rumah.

​Kepala Pelaksana BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat dinamis. Proses verifikasi dan pendataan di lapangan oleh tim reaksi cepat hingga kini masih berlangsung.

​”Tim masih terus melakukan identifikasi dan pendataan terhadap warga maupun wilayah yang terdampak. Karena itu, jumlahnya masih memungkinkan berubah,” jelas Cornelius pada Senin (11/5).

​Dari rekapitulasi wilayah, Kecamatan Kambu tercatat sebagai wilayah dengan jumlah warga terdampak terbesar. Di Jalan Mangkerey saja, terdapat 100 rumah dengan 900 jiwa yang terdampak, disusul Lorong Hidayatullah dengan 76 rumah dan 300 jiwa.

Kelurahan Anduonohu (Jalan Kedondong) menjadi titik terluas dengan 85 rumah dan 225 jiwa terdampak. ​Kelurahan Lepo-lepo mengalami dampak parah, khususnya di RT 03 dan RT 14, dengan total ratusan jiwa terpaksa mengungsi. Banjir juga menerjang Kecamatan Abeli, Kadia, hingga Kecamatan Wuawua.

​Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa meski air mulai surut di beberapa titik, wilayah Kelurahan Lepo-lepo masih terendam. Ratusan warga dari RT 10 hingga RT 15 terpantau masih bertahan di posko pengungsian seperti masjid dan tenda darurat.

​Uni Nasra (55), salah satu warga di kawasan Sungai Wanggu, menuturkan bahwa banjir tahun ini jauh lebih besar dan cepat dibandingkan kejadian tahun 2025.

​”Tahun lalu lebih kecil dan cepat surut. Sekarang, awalnya hanya semata kaki, tapi mendadak naik sampai 1,5 meter. Barang elektronik tidak sempat diselamatkan,” keluh Nasra.

​Ia juga menyuarakan kebutuhan mendesak para pengungsi. Warga berharap pemerintah segera mendistribusikan bantuan berupa bahan pangan mentah (sembako) ketimbang mengandalkan dapur umum sepenuhnya. Hal ini dikarenakan porsi dari dapur umum seringkali dianggap tidak mencukupi jumlah anggota keluarga yang ada di pengungsian.

#beransurmedia #banjir #musibah #bencanaalam #bencanabanjir #nasra #UniNasra #SungaiWanggu #BadanPenanggulanganBencanaDaerah #BPBD beransur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *