Berasur, Mamuju, 23 April – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) diwarnai aksi kecurangan sistematis. Dua orang peserta wanita tertangkap basah menggunakan perangkat komunikasi canggih yang disembunyikan di balik pakaian saat akan memasuki ruang ujian pada Selasa (21/4/2026) pagi.
Insiden ini mengungkap adanya dugaan jaringan sindikat perjokian berskala besar yang mengincar program studi favorit.
Kecurangan ini terdeteksi pada hari pertama pelaksanaan ujian. Petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk ruang ujian mencurigai gerak-gerik kedua pelaku saat dilakukan pemeriksaan menggunakan metal detector.
“Keduanya perempuan, dia bermukim di wilayah di luar Sulbar, datang ke Sulbar,” ujar Plt Wakil Rektor 1 Unsulbar, Tasrif Surungan saat dihubungi detikcom, Rabu (22/4/2026).
Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan dan penggeledahan, panitia menemukan perangkat komunikasi yang dimodifikasi sedemikian rupa. Plt Wakil Rektor 1 Unsulbar, Tasrif Surungan, menjelaskan bahwa perangkat yang digunakan terlihat seperti ponsel jadul namun fungsinya telah diubah.
“Alat itu kelihatan jadul, tetapi itu kelihatannya sudah diganti dia punya sistem ya. Di mana HP itu menjadi semacam decorder. Jadi decorder itu kelihatan seperti HP, kemudian dia dihubungkan ke headset masuk ke telinga,” terangnya.
Modus mereka adalah membaca soal secara diam-diam di dalam ruang ujian, yang kemudian suaranya terkirim secara real-time ke pusat komando sindikat mereka. Hasil pelacakan data menunjukkan rekam jejak digital yang mencurigakan.
Dari pola yang ditemukan, panitia menduga kuat keduanya merupakan bagian dari jaringan perjokian yang bertugas ‘menambang soal’ selama ujian berlangsung.
“Modusnya itu, dia bisa dilihat sebagai joki ya, di mana joki untuk menambang soal. Jadi, dia akan membaca itu (soal-soal) secara diam-diam dan itu kemudian terkirim suara itu ke pusat dia (kelompok sindikatnya),” katanya.
Pihak kampus langsung mengambil tindakan tegas dengan mendiskualifikasi keduanya. Temuan ini juga telah dilaporkan ke panitia pusat serta aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti.
Kedua pelaku diketahui pernah mengikuti UTBK pada tahun 2025. Pelaku meggunakan KTP yang baru diterbitkan pada April 2026.
Panitia menduga adanya pemalsuan identitas karena dokumen kependudukan tersebut sangat baru dan diragukan validitasnya. Keduanya mendaftar di program studi Kedokteran, jurusan yang menurut Tasrif menyumbang 99% kasus kecurangan dalam sejarah pelaksanaan UTBK.
“Itu kelihatan memang joki, (daftar fakultas) kedokteran,” ujar Tasrif Surungan.
Ia pun mendorong aparat penegak hukum untuk tidak menganggap kasus ini sebagai perkara biasa. Dia menekankan UTBK merupakan kegiatan resmi berskala nasional.
“Misalnya kalau laporan individu kan kayak pencurian, dia yang dicuri itu kan datang (melapor) itu baru mau menceritakan, ini bukan, ini bukan kegiatan individu, ini pelanggaran adalah (dilakukan dalam) kegiatan resmi negara,” jelas Tasrif.
Pengembangan kasus mengungkap fakta baru. Berdasarkan pelacakan data, kedua peserta tersebut ternyata pernah mengikuti UTBK pada tahun sebelumnya.
“Datanya (kedua perempuan itu) dikirim ke pusat, dilacak, oh iya ternyata tahun 2025 juga ikut,” kata Tasrif Surungan.
Pihak Unsulbar tidak main-main dalam menanggapi temuan ini. Kedua peserta tersebut langsung dinyatakan didiskualifikasi dari kepesertaan SNBT 2026. Kasus ini pun telah dilaporkan secara resmi ke panitia pusat di Jakarta dan aparat penegak hukum.
“Terus (kami juga laporkan temuan ini) tembusan ke panitia pusat. Panitia Pusat berkoordinasi dengan Kapolri, karena pelaksanaan ini (kegiatan dilakukan) oleh negara, Kapolri sebenarnya bagian integral dari kegiatan ini,” ucapnya.
Tasrif menekankan bahwa tindakan ini merupakan pelanggaran berat karena menyasar kegiatan resmi negara, bukan sekadar perkara individu. praktik perjokian ini tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi merusak sistem pendidikan dan melahirkan dampak jangka panjang.
”Ini genting. Jika praktik seperti ini dibiarkan, dunia pendidikan kita akan melahirkan koruptor-koruptor masa depan. Ini bukan masalah sepele, ini adalah pelanggaran terhadap kegiatan resmi negara,” tegas Tasrif.
Saat ini, pihak kepolisian berkoordinasi dengan Panitia Pusat SNPMB sedang mendalami aliran komunikasi dari perangkat tersebut untuk memburu otak di balik sindikat perjokian yang diduga beroperasi lintas provinsi ini.
#beransurmedia #SNPMB #UniversitasSulawesiBarat #Unsulbar #TasrifSurungan #UTBK #UjianTulisBerbasisKomputer beransur.com
