Beransur, Bandung Barat, 26 Maret 2026 – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan memberhentikan sementara (suspend) operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik seorang mitra pengusaha bernama Hendrik Irawan di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Keputusan ini merupakan buntut dari unggahan konten video Hendrik yang viral dan memicu kontroversi luas di jagat maya.
Masalah bermula ketika Hendrik Irawan mengunggah video yang memperlihatkan dirinya sedang berjoget di dalam kantor SPPG dengan latar belakang para pekerja yang tengah sibuk membungkus paket makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain aksi joget tersebut, Hendrik juga membahas mengenai keuntungan atau insentif yang ia dapatkan sebesar Rp 6 juta per hari. Hal ini memicu reaksi negatif dari netizen yang menilai tindakan tersebut tidak etis dan mengabaikan standar profesionalisme serta higienitas di area produksi pangan.
Pihak BGN menyatakan bahwa tindakan memamerkan keuntungan di tengah pelaksanaan program sosial tidak sejalan dengan semangat program MBG yang difokuskan pada pemenuhan gizi masyarakat. Sebagai bentuk sanksi dan evaluasi, operasional dapur milik Hendrik resmi di-suspend.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa seluruh mitra pemerintah tetap mengedepankan etika, transparansi, dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat dalam mengelola program nasional.
Menanggapi gelombang hujatan dan sanksi yang diterima, Hendrik Irawan akhirnya muncul ke publik untuk memberikan klarifikasi. Dalam video terbarunya, ia menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada masyarakat, netizen, hingga Presiden Prabowo Subianto.
“Saya Hendrik Irawan memohon maaf pada netizen, saya tidak masalah dihujat setiap hari, dan saya tidak ada tujuan melecehkan program Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Hendrik dalam unggahannya.
Terkait klaim keuntungan Rp 6 juta per hari, Hendrik menjelaskan bahwa uang tersebut merupakan insentif karena ia membangun dapur SPPG menggunakan dana pribadi, bukan dana pemerintah.
“Jadi itu bukan kami dapat dari jatah MBG anak-anak, tapi itu insentif dari Pak Prabowo Subianto karena saya membangun dapur SPPG ini menggunakan uang saya sendiri,” tambahnya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh mitra pemerintah mengenai krusialnya etika digital dan profesionalisme. Program yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, seperti ketahanan gizi, menuntut integritas tinggi dan sensitivitas sosial dari para pelaksananya di lapangan.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menentukan apakah izin operasional dapur tersebut dapat dibuka kembali.
#beransurmedia #MakanBergiziGratis #MBG #SPPG #PrabowoSubianto #HendrikIrawan #Batujajar #KabupatenBandungBarat #bandung #StandarOperasionalProsedur #SOP #transparansi #suspend #etika #BGN beransur.com
