Beransur, Jakarta, 9 Februari 2026 – Tempe kerap dijuluki sebagai “makanan rakyat,” sebuah predikat yang menyiratkan kedekatan budaya dan keterjangkauan harga. Salah satu pertanyaan paling mengusik adalah mengapa Indonesia, dengan tingkat upah buruh yang relatif rendah, gagal bersaing dengan produsen kedelai dari negara maju seperti Amerika Serikat atau Brasil.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) menyinggung Indonesia yang masih mengimpor banyak komoditas pangan, salah satunya kedelai. Padahal, salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia berasal dari kedelai yakni tahu dan tempe. Titiek menyebut kondisi impor kedelai ini membuat Indonesia malu.
“Kita ini pemakan tempe tahu, tapi kedelainya impor lebih dari 70%, kedelainya impor. Ini harus kita genjot mungkin dari TNI Angkatan Darat kita harus mulai Pak untuk nanam kedelai ini. Kita pemakan tempe ini bahan bakunya harus impor, ini malu kita ya,” kata dia dalam Panen Fest 2026, di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026).
Dia meminta pemerintah agar cepat melakukan perubahan agar kedelai tidak lagi impor. Titiek mengatakan, diharapkan tahun depan kedelai bisa swasembada, seperti beras dan jagung.
“Jadi, kemarin sudah swasembada beras dan jagung pada akhir tahun kemarin. Nah, ke depan kita harapkan untuk swasembada gula, garam, kedelai, bawang putih, aneka bawang-bawang itu yang semua impor-impor, jadi tidak ada lagi impor-impor bahan-bahan pangan ini,” jelasnya.
Secara ekonomi, jawabannya bukan pada murahnya tenaga kerja, melainkan pada skala ekonomi dan teknologi pertanian. Di negara pengekspor, kedelai ditanam di atas lahan ribuan hektar dengan mekanisasi penuh. Sementara di tanah air, pertanian kedelai masih bersifat gurem dan tradisional.
Untuk meningkatkan produksi dalam negeri, Titiek berharap dapat menggunakan bibit dari dalam negeri. Jadi, demi mencapai cita-cita swasembada pangan, Titiek menyebut tetap harus melibatkan banyak akademisi.
Industri pengrajin tempe sering mengklaim bahwa kedelai impor memiliki kualitas yang lebih stabil, ukuran biji yang seragam, dan kadar air yang pas untuk proses fermentasi. Jika kualitas tersebut menjadi standar pasar, timbul pertanyaan: mengapa riset dan pengembangan (R&D) dalam negeri tidak mampu menghasilkan varietas yang setara atau bahkan melampaui standar tersebut?
“Dan kita banyak akademisi-akademisi dari universitas-universitas yang bisa menemukan, sudah menemukan bibit kedelai yang bagus. Tidak perlu kita bibit pun impor, yang ada lokal saja yang karena sesuai dengan iklim daripada Indonesia ini,” pungkasnya.
Kegagalan ini dipandang sebagai bukti nyata bahwa sektor riset pertanian kita masih tertinggal. Sulit untuk berbicara tentang kemajuan teknologi tingkat tinggi (seperti AI atau dirgantara) jika untuk urusan bioteknologi pangan sederhana saja, kita masih bertekuk lutut pada benih dan hasil panen luar negeri.
Kritik tajam diarahkan pada pembuat kebijakan. Kekayaan sumber daya alam Indonesia disinyalir justru menjadi bumerang, menciptakan mentalitas “malas berpikir” di kalangan pejabat.
Alih-alih membangun infrastruktur pertanian jangka panjang dan mendorong inovasi benih unggul, kebijakan impor instan sering kali menjadi pilihan karena dianggap lebih praktis dan yang lebih mengkhawatirkan menjadi celah pemburuan rente (keuntungan pribadi).
#beransurmedia #tempe #import #eksport #makanankhasnusantara #nusantara beransur.com
