Beransur, ​Paris – Aksi berani Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, mendadak viral di media sosial saat mendampingi unjuk rasa pelajar di kawasan pinggiran Paris, Prancis, Selasa (6/10/2026). Polisi anti huru-hara yang bersenjata lengkap dan memegang tameng tampak dihadapi langsung oleh Bagayoko sambil berteriak meminta mereka untuk ‘berhenti’.

​Bagayoko, politisi dari partai sayap kiri radikal France Unbowed (LFI), dengan tegas meminta aparat tidak melakukan tindakan penyerbuan. Menurutnya, mayoritas pelajar yang berdemo tidak menunjukkan tindakan agresif yang membahayakan petugas.

​”Mereka telah memutuskan untuk menyerbu dan benar-benar mengejar para pelajar yang banyak di antaranya sama sekali tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap petugas polisi,” ujar Bagayoko dalam wawancara di kantornya.

​Meski sang wali kota telah pasang badan, polisi tetap melepaskan tembakan gas air mata ke arah kerumunan, yang turut mengenai Bagayoko.
​
​Kota Saint-Denis, yang mencatatkan tingkat kemiskinan lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional, menjadi salah satu titik awal meletusnya gelombang protes sejak akhir September lalu. Para pelajar turun ke jalan menuntut perbaikan fasilitas sekolah yang tidak higienis, kelas yang terlampau padat, krisis kekurangan guru, serta ketimpangan akses kesempatan.

​”Protes bukanlah hal baru di sini. Hal itu terjadi setiap awal tahun ajaran. Janji Republik (tentang kesetaraan), khususnya bagi lingkungan kelas pekerja dan juga wilayah pedesaan, tidak dihormati,” tegas Bagayoko.

​Sebagai ayah dari empat anak, Bagayoko merasa memiliki kewajiban moral untuk menjaga para demonstran muda tersebut.
“Siswa-siswa SMA yang turun ke jalan itu bisa saja anak-anak saya sendiri, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mendampingi mereka,” tambahnya.

Bagayoko juga mendesak pemerintah Prancis agar memprioritaskan anggaran investasi di sektor pendidikan serta menaikkan beban pajak bagi para miliarder.
​
​Aksi demonstrasi yang telah berlangsung selama lebih dari dua minggu ini menyingkap kemarahan publik yang kian meluas, tepat enam bulan menjelang pemilihan umum untuk menggantikan Presiden Emmanuel Macron. Hingga kini, dilaporkan lebih dari 6.000 orang telah ditangkap dan puluhan pelajar mengalami luka-luka.

​Kelompok hak asasi manusia dan serikat pekerja menuding pihak kepolisian menggunakan taktik represif berlebihan terhadap anak di bawah umur, termasuk penggunaan tongkat pemukul, gas air mata, hingga senjata peluru karet keras (flashball).
​Di sisi lain, pemerintah setempat membela tindakan aparat dengan menyatakan ratusan petugas polisi turut korban luka-luka. Pihak berwenang juga mencatat adanya aksi pembakaran serta penjarahan sekolah, hingga serangan terhadap guru dan warga sipil.

​Menanggapi tudingan pemerintah yang mengisyaratkan bahwa partai LFI menjadi dalang di balik kerusuhan ini, Bagayoko menampik keras dan menilai tuduhan tersebut menghina perjuangan para pelajar.

Sementara itu, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menyatakan bahwa pemerintah berjanji akan meninjau tuntutan para siswa dan mengajukan usulan solusi pada akhir Oktober mendatang.

#beransurmedia #Aksiberani #WaliKotaSaint-Denis #BallyBagayoko #Paris #Prancis #Polisiantihuru-hara #Bagayoko #LFI #Saint-Denis #demonstran #pelajar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *