Beransur, Jakarta, 19 Februari 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI), para pemimpin teknologi dunia mulai menyadari bahwa Bumi mungkin tidak lagi cukup luas untuk menampung infrastruktur pendukungnya. Elon Musk, melalui sinergi antara SpaceX dan xAI, memimpin visi revolusioner: memindahkan pusat data (data center) AI dari daratan menuju orbit Bumi.

“Satu-satunya solusi logis adalah memindahkan upaya padat sumber daya ini ke lokasi dengan daya dan ruang yang luas. Maksud saya, angkasa disebut ‘ruang’ (space) karena ada alasannya,” tulis Musk saat mengumumkan merger tersebut.

​Langkah ini diambil bukan sekadar gaya hidup futuristik, melainkan sebagai solusi logis atas krisis sumber daya yang mulai menghantui pembangunan pusat data di Bumi. Google, OpenAI, dan perusahaan lain juga tengah menjajaki pembuatan data center di luar angkasa. Permintaan besar pusat data AI terhadap daya listrik dan air berarti perkembangan teknologi AI perlu alternatif baru.

“Saya pikir merupakan keharusan untuk tidak lagi mencari solusi di Bumi, melainkan melihat ke angkasa untuk menyediakan sebagian dari solusi ini,” kata David Bader, profesor ilmu data di New Jersey Institute of Technology.

​Kebutuhan daya gigawatt untuk melatih model AI skala besar mulai membebani masyarakat. Analisis dari Bloomberg mengungkapkan fakta mengejutkan: wilayah di sekitar pusat data mengalami lonjakan biaya listrik hingga 267% dalam lima tahun terakhir

​Selain energi, masalah air juga menjadi krusial. Satu pusat data raksasa dilaporkan bisa menyedot hingga 5 juta galon air per hari—jumlah yang setara dengan kebutuhan air satu kota berpenduduk hingga 50.000 jiwa.

​”Bumi mungkin menjadi tempat yang rumit bagi raksasa teknologi. Reaksi politik di banyak komunitas mempersulit perolehan izin konstruksi pusat data baru,” ungkap Mark Muro, peneliti senior di Brookings Metro.

​Philip Johnston, CEO Starcloud, memprediksi bahwa dalam 10 tahun ke depan, seluruh pusat data AI baru akan beroperasi di orbit.

“Di angkasa, Anda mendapatkan energi terbarukan berbiaya rendah yang hampir tak terbatas,” jelasnya.

​Meski terdengar sangat menjanjikan, tantangan teknis tetap membayangi. Deutsche Bank Research menyebutkan bahwa hambatan utama saat ini adalah masalah rekayasa (engineering) untuk menyalurkan daya gigawatt dan menjaga konektivitas data kecepatan tinggi antara orbit dan Bumi.

“Bukan hanya tagihan listrik konsumen yang naik. Tagihan listrik raksasa teknologi juga naik drastis. Mereka membayar harga sangat mahal,” sebutnya.

Musk memprediksi pusat data orbital akan lebih hemat biaya dari Bumi dalam dua hingga tiga tahun. Ahli tidak sependapat. Deutsche Bank memperkirakan butuh waktu hingga tahun 2030-an sebelum pusat data orbital mencapai hal itu. Musk sering menjanjikan jadwal kemajuan teknologi yang terlalu muluk. Namun, pusat data di angkasa pada akhirnya berpotensi terjadi.

#beransurmedia #elonmusk #AI #google #angkasa #orbit #teknologi #listrik #gigawatt #bumi beransur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *