Beransur, Riyadh – Eskalasi konflik regional Timur Tengah terus memanas. Kelompok Houthi meluncurkan serangan mematikan yang menghantam Bandara Internasional Raja Khalid (King Khalid International Airport) di Riyadh, Arab Saudi, pada Minggu sore sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Serangan proyektil ini memicu kebakaran hebat, kerusakan infrastruktur fatal, serta memakan korban jiwa dan puluhan korban luka-luka.
Otoritas Penerbangan Sipil Saudi mengonfirmasi pada Senin (12/10/2026) bahwa seorang warga negara Pakistan tewas dan sedikitnya 11 orang lainnya mengalami luka-luka akibat hantaman pada Minggu tersebut.
Serangan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian gempuran beruntun dalam sepekan terakhir setelah serangan Houthi menewaskan sedikitnya 13 orang Sabtu. Sebelumnya Kamis, serangan juga dilakukan Houthi dan menewaskan tiga orang termasuk seorang pilot di bandara.
sejak serangan Sabtu, Houthi memang telah mengancam akan terus menargetkan bandara kerajaan menyebutnya sebagai “teater operasi pasukan kami”. Beberapa jam kemudian, pada Minggu, koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok tersebut melaporkan bahwa sebuah proyektil menghantam Bandara Internasional Raja Khalid, sehingga memicu kebakaran.
Dahsyatnya ledakan pada Minggu sore berguncang hingga ke pemukiman penduduk. Warga di lingkungan Al-Aarid, bagian utara Riyadh, melaporkan mendengar beberapa ledakan keras yang menggetarkan bangunan.
”Burung-burung menjadi heboh setelah mendengar suara tersebut. Seluruh rumah berguncang,” kata seorang warga lokal mengabarkan kepanikan yang terjadi.
Pihak berwenang menghentikan operasi di bandara Riyadh Minggu. Masih mengutip AFP, hal ini dikatakan dua sumber penerbangan senior dan juga merujuk data Flightradar24.
“Sumber penerbangan kedua juga mengkonfirmasi penghentian operasi sampai pemberitahuan lebih lanjut menambahkan bagaimana radar dan peralatan komunikasi rusak dan landasan pacu perlu diperiksa,” tulis AFP.
“Pemantau lalu lintas udara Flightradar24 mengatakan penutupan bandara telah diperpanjang,” muatnya.
Disebut juga bagaimana para saksi menggambarkan kekacauan yang terjadi setelahnya. Belum ada laporan apakah bandara sudah dibuka kembali operasionalnya saat berita ini diturunkan.
“Orang-orang yang berada di Terminal 3 mulai berlari ke arah kami,” kata seorang warga Riyadh berusia 32 tahun.
“Beberapa orang kehilangan tangan atau lengannya. Orang-orang berlarian sambil membawa orang-orang yang terluka, berlumuran darah,” tambahnya.
Banyaknya korban luka membuat pejabat kesehatan setempat mengeluarkan panggilan massal kepada para dokter untuk segera merapat dan menangani situasi darurat.
Merespons situasi keamanan yang memburuk, sejumlah kedutaan besar asing termasuk Kedutaan Besar AS, Kanada, Jerman, dan Spanyol mengeluarkan peringatan darurat agar warga negaranya menjauhi area bandara Riyadh. Sementara itu, pemerintah Australia mendesak warganya untuk tetap berada di dalam rumah dan segera “berlindung di tempat” (shelter in place).
Arab Saudi sendiri memimpin koalisi internasional yang menyokong pemerintah militer Yaman sejak 2015 untuk menghalau kelompok Houthi yang didukung Iran.
Kendati sempat mereda lewat gencatan senjata mediasi PBB pada 2022–2023, pecahnya perang Gaza pada akhir 2023 memicu Houthi kembali melancarkan serangan di Laut Merah.
Memasuki tahun 2026, memuncaknya ketegangan regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menyeret kembali Houthi dan Arab Saudi ke dalam pertempuran terbuka. Perkembangan terbaru ini menegaskan bahwa konflik Yaman kini kembali menjadi ancaman keamanan langsung bagi stabilitas Kerajaan Saudi dan jalur pelayaran internasional.
#beransurmedia #Eskalasikonflik #regionalTimurTengah #memanas #KelompokHouthi #BandaraInternasionalRajaKhalid #KingKhalidInternationalAirport #Riyadh #ArabSaudi #kerusakaninfrastruktur #korbanjiwa #korbanluka-luka
