Beransur, Bekasi, 19 Maret 2026 – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih baru yang memicu guncangan hebat di pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan menguat tajam pada penutupan perdagangan Rabu (18/3/2026) waktu setempat atau Kamis pagi WIB, dengan kenaikan yang terus berlanjut hingga 5,6 persen pada sesi perdagangan lanjutan.

​Lonjakan ini merupakan imbas langsung dari meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, yang kini telah menyasar infrastruktur energi vital di kawasan tersebut.

​Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent awalnya ditutup naik 3,8 persen ke level 107,38 dollar AS per barel. Namun, kekhawatiran pasar yang meluas mendorong penguatan lanjutan hingga menembus angka 5,6 persen pasca-penutupan.

​Di saat yang sama, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik tipis 0,1 persen ke level 96,32 dollar AS per barel, sebelum akhirnya melonjak sekitar 4 persen di perdagangan sesi berikutnya.

​Kenaikan harga yang signifikan ini dipicu oleh serangan balasan Teheran terhadap sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah. Serangan ini disebut sebagai respons atas rusaknya ladang gas South Pars milik Iran, yang menurut media Israel, dilakukan oleh pihak Israel dengan lampu hijau dari Amerika Serikat.

​Dampak kerusakan mulai dilaporkan dari berbagai titik. Perusahaan minyak dan gas nasional menyatakan kawasan industri Ras Laffan mengalami kerusakan besar akibat hantaman rudal Iran. Pemerintah melaporkan telah mencegat sejumlah rudal balistik dan drone yang menargetkan fasilitas gas di wilayah Timur.

Media pemerintah Iran merilis peringatan evakuasi bagi fasilitas energi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar, yang disebut akan menjadi target serangan susulan dalam waktu dekat.

​Analis SEB, Ole Hvalbye, menegaskan bahwa setiap eskalasi yang menargetkan infrastruktur energi akan terus mengerek harga lebih tinggi. Kondisi semakin genting mengingat konflik ini mulai mengganggu stabilitas Selat Hormuz, jalur transportasi air yang mengelola sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG global.

​Estimasi pemangkasan produksi di Timur Tengah diperkirakan mencapai 7 juta hingga 10 juta barel per hari, atau setara dengan 7 hingga 10 persen dari total permintaan dunia.

North Oil Company mengumumkan ekspor dari ladang Kirkuk ke pelabuhan Ceyhan, Turki, telah kembali beroperasi dengan kapasitas awal 250.000 barel per hari.

Aliran produksi dari ladang Sharara mulai dialihkan melalui jalur alternatif menyusul insiden kebakaran.

Data terbaru menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 6,2 juta barel menjadi 449,3 juta barel, melampaui ekspektasi pasar dan memberikan sedikit bantalan bagi ketatnya pasokan.

​Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai langkah Irak meningkatkan produksi terjadi di momen yang krusial. “Ini meningkatkan tekanan terhadap Iran, membuat mereka lebih sulit menggunakan minyak sebagai alat tawar politik,” ujarnya.

​Meskipun terdapat penambahan pasokan dari beberapa wilayah, pasar energi global diprediksi tetap berada di bawah tekanan tinggi selama konflik di pusat energi dunia tersebut belum mereda.

#beransurmedia #konflik #minyakbumi #minyak #minyakglobal #energiglobal #global #indonesia #naik beransur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *