Beransur, Semarang, 18 Februari 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mulai menaruh perhatian serius terhadap dampak lingkungan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah mengakui bahwa aktivitas di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berpotensi meningkatkan volume timbulan sampah organik secara signifikan.

​Kepala DLHK Jawa Tengah, Widi Hartanto, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memitigasi risiko tersebut agar tidak membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian kritis.

​Widi menegaskan bahwa sampah yang dihasilkan oleh dapur SPPG tidak boleh langsung dibuang begitu saja ke TPA. Mengingat sebagian besar TPA di Jawa Tengah telah mengalami kelebihan kapasitas (overcapacity), pengolahan sampah dari sumbernya menjadi harga mati.

“Tentu (MBG) ada, ada pengaruhnya ya (terhadap timbulan sampah). Sehingga kami sudah berkoordinasi dengan BGN untuk wilayah Jawa Tengah untuk bersama-sama dengan Dinas LH Kabupaten Kota se-Jawa Tengah,” tutur Widi saat dikonfirmasi, Selasa (17/2/2026).

“Sebenarnya sudah sudah ada upaya-upaya yaitu menyiapkan untuk pelatihan-pelatihan kepada dapur-dapur MBG untuk mengolah sampah itu,” sambungnya.

​Meskipun data rinci mengenai jumlah timbulan sampah dari SPPG masih bersifat fluktuatif dan terus didata, Widi memastikan trennya akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah dapur penyedia MBG di berbagai wilayah.

Namun, ia memastikan jumlahnya meningkat seiring bertambahnya dapur MBG di Jawa Tengah.

“Kami belum data ya secara detailnya ya karena ini kan fluktuatif ya, tapi jumlah dapur SPPG juga naik kan, tentu ini punya pengaruh ya terhadap jumlah timbulan sampah,” imbuh Widi.

Sebagai solusi praktis, DLHK Jateng menawarkan sejumlah metode pengolahan sampah organik yang bisa diterapkan langsung di area dapur SPPG maupun di sekolah-sekolah, antara lain memanfaatkan sisa bahan makanan sebagai pakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Metode ini dinilai paling efektif karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Pembuatan Komposter dengan cara mengolah sisa organik menjadi pupuk yang dapat digunakan kembali untuk penghijauan. lalu bisa juga membuat lubang biopori yang mengoptimalkan penyerapan sampah organik ke dalam tanah guna menjaga kualitas air tanah dan kesuburan tanah.

“Sudah banyak inovasi yang kita tawarkan ya seperti misalnya untuk magot ya. Kemudian jadi komposter, ada juga yang bisa masuk ke biopori ya khusus organik,” ungkapnya​​

Persoalan sampah ini tidak hanya berhenti di dapur produksi, tetapi juga pada sisa makanan (food waste) dari para siswa yang tidak menghabiskan porsinya. Pemprov Jateng mendorong sekolah-sekolah untuk mulai mengedukasi siswa mengenai pengelolaan sampah dari hulu.

Imbauan serupa juga ditujukan kepada pengelola pasar, kawasan wisata, hingga perkantoran dapat meniru langkah mandiri ini.

“Tapi ini lebih terkontrol ya, karena di dapur itu kan bisa segera kita intervensi, ada pengawasan bagaimana sampah itu bisa dikelola gitu. Jadi kita tidak bisa mengandalkan sampah itu diambil terus dikelola terus bawa ke TPA,” lanjutnya.

Terkait sisa makanan siswa yang tidak menghabiskan MBG, ia juga mendorong sekolah dan masyarakat melakukan pengelolaan sampah dari hulu.Menurutnya, pengolahan sampah organik melalui magot memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Iya, sisa makanan kan bisa dikelola untuk magot ya. Ya, inilah yang kita tuntut semua lapisan masyarakat itu untuk bisa melakukan pengelolaan sampah dari sumbernya gitu,” tegasnya.

Dengan demikian, program nasional yang berfokus pada peningkatan gizi ini tetap berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.

#beransurmedia #DLH #DinasLingkunganHidup #jateng #jawatengah #MBG #SPPG #sampah #manggot #TPA #TempatPembuanganAkhir beransur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *