Beransur, Washington – Sebuah insiden bentrokan hebat dilaporkan terjadi di atas kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln. Pertikaian fisik yang melibatkan sesama prajurit tersebut berujung maut, dikabarkan stres hingga nekat melompat ke laut dan berkelahi satu sama lain, menyebabkan sedikitnya tujuh personel tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.
Kapal induk USS Abraham Lincoln merupakan salah satu kapal induk tercanggih milik militer AS yang sedang dikerahkan secara aktif di kawasan konflik dalam rangka pertempuran melawan pasukan Iran. Sedikitnya 7 personel Angkatan Laut AS tewas di tempat, sementara beberapa anggota lainnya mengalami luka-luka berat hingga ringan.
Di atas Kapal Induk USS Abraham Lincoln saat menjalankan misi operasional.Kapal tengah berada dalam siaga tinggi sebagai bagian dari pengerahan armada tempur utama AS. Insiden tragis ini dinilai oleh berbagai pihak sebagai cerminan dari kondisi psikologis prajurit yang kian memprihatinkan di medan tugas.
Menurut laporan Tasnim, insiden tersebut bermula ketika seorang penasihat untuk Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper naik ke USS Abraham Lincoln untuk menanggapi keluhan-keluhan yang semakin meningkat dari para awak kapal induk tersebut.
“Insiden tersebut dinilai mencerminkan semakin meningkatnya keresahan di kalangan awak kapal dan tekanan yang kian memuncak di dalam internal militer AS akibat masa pengerahan yang berkepanjangan.”
Masa penugasan di laut lepas yang terlalu lama tanpa jeda istirahat yang memadai disinyalir menjadi pemicu utama tingginya tingkat stres, kelelahan emosional, serta ketegangan antar-personel hingga akhirnya meletus menjadi bentrokan fisik secara terbuka.
Laporan mengenai bentrokan sengit ini kini menjadi perhatian serius pihak internal militer AS. Evaluasi terhadap kondisi mental prajurit serta pengetatan tata tertib di atas kapal induk diperkirakan bakal menjadi fokus utama untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan.
USS Abraham Lincoln telah dikerahkan selama 263 hari dan saat ini beroperasi di Samudra Hindia. Kapal induk tersebut sudah menghabiskan 208 hari berturut-turut di laut, yang merupakan pengerahan terpanjang dari USS Abraham Lincoln.
Awalnya, kapal perang berisi 5.000 lebih awak dan marinir ini cuma akan dikerahkan sampai Mei. Namun, usai Presiden Donald Trump memutuskan lanjut perang melawan Iran, pengerahan Abraham Lincoln diperpanjang tanpa batas waktu yang diumumkan ke publik.
MS Now melaporkan pekan lalu ratusan keluarga personel angkatan laut AS menemui Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao untuk memprotes pengerahan berkepanjangan USS Abraham Lincoln.
Mereka mencemaskan kondisi para personel, yang mengaku stres berat karena kelelahan, kekurangan makanan dan air bersih, hingga tinggal di kondisi kapal yang berlubang dan dipenuhi jamur. Menurut para keluarga, awak dan marinir USS Abraham Lincoln sudah sangat frustrasi dan ingin segera pulang. Mereka pun mendesak agar kapal perang tersebut segera ditarik dari perang.
Dilansir dari Military Times, seorang keluarga bahkan mengaku suaminya sempat mencoba lompat ke laut saking lelahnya. Beruntung sang suami diselamatkan rekannya dan kini dalam perawatan medis.
“Dia takut. Dia berpikir akan diberhentikan secara tidak hormat, dan hanya karena dia kelelahan, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja,” kata Annabelle Loma, yang beberapa kali bicara dengan suaminya setelah percobaan melompat tersebut.
Menurut para keluarga, sebagian besar awak bekerja dalam shift yang sangat panjang dan melelahkan. Beberapa bahkan jarang mendapat hari libur. Brett Snow, seorang veteran Angkatan Laut yang putranya bertugas di Abraham Lincoln, mengatakan bahwa kapal induk adalah tempat kerja yang sangat berbahaya.
Kapal induk memiliki dek penerbangan, yang menyimpan pesawat berkecepatan tinggi dan bisa membakar awak serta melempar mereka ke laut. Baling-baling yang berputar cepat juga bisa mengakibatkan kecelakaan. Bongkar muat bom, rudal, dan roket yang terus-menerus juga menimbulkan risiko ledakan dan kebakaran.
Lingkungan yang bergerak cepat, padat, dan sangat bising juga bisa menyebabkan gangguan pendengaran imbas suara mesin yang tak henti-hentinya.
“Ini sudah menjadi tempat paling berbahaya di dunia, dan sekarang Anda harus bekerja keras, hari demi hari, tanpa istirahat. Ini adalah lingkungan rawan kecelakaan,” kata Snow kepada MS Now.
Bonnie York, yang anak tirinya berada di Abraham Lincoln, juga mengatakan bahwa kondisi moral para awak dan marinir saat ini sangat buruk.
“Dokter atau terapis kapal mengatakan mereka harus segera berlabuh atau orang-orang akan mulai kehilangan akal sehat,” ucapnya.
Mengenai ini, Hontz mengatakan kepada MS Now bahwa kekurangan stok makanan memang kadang terjadi untuk jangka waktu tertentu.
“Mereka kadang-kadang kekurangan persediaan tertentu untuk jangka waktu singkat, tetapi Abraham Lincoln dan semua kapal di medan operasi saat ini memiliki persediaan makanan dan perlengkapan yang cukup untuk mendukung operasi,” kata Hontz, seraya mencatat bahwa buah-buahan dan sayuran segar sangat sulit untuk disediakan karena makanan tersebut membusuk saat hendak dikirim.
Hontz juga mengakui terkadang ada masalah air di kapal Lincoln. Namun, hal itu dengan cepat teratasi. Para keluarga juga mengaku menyesal telah memilih Trump dalam pemilihan presiden kemarin. Sebab, ucapan Trump tak sesuai, karena saat itu ia berjanji tak akan memulai perang apa pun.
“Saya sangat berharap bahwa perang ini sepadan. Karena saya merasa sebaliknya … kita berkorban untuk sesuatu yang pada dasarnya tidak ingin kita ikuti,” kata York.
#beransurmedia #USSAbrahamLincoln #AmerikaSerikat #CENTCOM #KomandoPusatAS #AmerikaSerikat #Tasnim #AnnabelleLoma
