Kemerdekaan 17 Agustus bukan cuma soal lepas dari penjajahan fisik. Dalam Al-Qur’an, konsep “hurriyah” / kebebasan punya makna yang jauh lebih dalam. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia merdeka secara lahir dan batin.
- Makna Dasar: Kemerdekaan = Tidak Menjadi Budak Selain Allah
Inti kemerdekaan dalam Islam adalah tauhid.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada setiap umat untuk menyerukan: Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut”
Thaghut = segala yang disembah, ditaati, diikuti selain Allah. Bisa berupa penjajah, pemimpin dzalim, hawa nafsu, harta, atau tradisi syirik.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan: dakwah semua nabi adalah membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk, menuju penghambaan hanya kepada Allah. Itulah kemerdekaan hakiki.
2. Dimensi Kemerdekaan Menurut Al-Qur’an
A. Kemerdekaan dari Penjajahan dan Penindasan
Islam menolak keras penindasan. Allah memerintahkan kita membela yang tertindas.
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ
“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah untuk membela orang-orang yang tertindas”
Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an menafsirkan: jihad dalam Islam adalah untuk membebaskan manusia agar hanya tunduk pada syariat Allah, bukan tunduk pada sistem dzalim manusia ke manusia.
Makanya para ulama dulu mendukung kemerdekaan Indonesia. KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad karena menjajah itu haram.
B. Kemerdekaan dari Perbudakan Nafsu dan Syahwat
Penjajah paling berbahaya bukan Belanda, tapi nafsu sendiri.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya”
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bilang: manusia merdeka adalah yang bisa mengendalikan syahwatnya, bukan diperbudak syahwat. Orang yang kecanduan judi, riba, korupsi = dia belum merdeka.
Kemerdekaan berarti: قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya”
C. Kemerdekaan untuk Beribadah dan Berkreasi
Allah ciptakan kita bukan untuk dijajah, tapi untuk jadi khalifah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”
Tafsir As-Sa’di: “Ibadah” di sini maknanya luas = tunduk, taat, dan mengisi bumi. Kemerdekaan memberi kita ruang untuk: kerja, dakwah, membangun, menuntut ilmu tanpa takut dibungkam.
3. Ciri Bangsa yang Merdeka Menurut Al-Qur’an
Allah gambarkan masyarakat merdeka itu seperti ini:
- Adil: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil”
- Bermusyawarah: وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ “Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah”
- Sejahtera: لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ “Jika penduduk negeri beriman & bertakwa, Kami bukakan berkah”
- Menjaga Martabat: وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ “Kemuliaan itu hanya bagi Allah, Rasul, dan orang beriman”
- Pelajaran dari Kisah Para Nabi
Kisah Nabi Musa: Inti misi beliau adalah أَنْ أَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ “Lepaskan Bani Israil bersama kami” . Nabi diutus untuk memerdekakan dari Fir’aun.
Kisah Nabi Yusuf: Waktu di penjara dia bilang السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ “Penjara lebih aku sukai daripada maksiat” . Lebih baik terkurung badan, asal jiwa merdeka dari dosa.
4. Mengisi Kemerdekaan dengan Cara Qur’ani
Agar kemerdekaan kita tidak “semu”, Al-Qur’an kasih 3 PR:
- Tegakkan Tauhid: Bebaskan negeri dari syirik, khurafat, dan ketergantungan pada selain Allah. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
- Tegakkan Keadilan Ekonomi: Haramkan riba وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا . Zakat, sedekah, UMKM harus hidup.
- Jaga Akhlak: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ Sabda Nabi. Bangsa merdeka = bangsa berakhlak.
Penutup
Kemerdekaan dalam Al-Qur’an bukan sekadar “bebas”. Tapi “bebas untuk taat”.
Bung Karno kutip ayat إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah diri”
Jadi merayakan 17 Agustus = memperbarui janji kita: Merdeka dari penjajah, merdeka dari maksiat, dan hanya menjadi hamba Allah.
Allahu Akbar! Merdeka!
Referensi Tafsir:
- Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim
- As-Sa’di. Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan
- Sayyid Quthb. Fi Zhilalil Qur’an
- Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin
