Beransur, Bajau – Setiap kali ada orang yang belum dikenal datang ke perkampungan Suku Bajau di Torosiaje maupun ke sekolah, anak-anak selalu bertanya apakah tamu tersebut merupakan petugas Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Pertanyaan ini selalu disampaikan anak-anak sekolah jika ada orang asing datang,” kata Kepala SDN 04 Popayato, Wahdian Dunggio, Jumat (9/10/2026).

​Wahdian menjelaskan, selama ini anak-anak mendengar informasi mengenai pembagian MBG dari media. Mereka pun membayangkan akan mendapatkan jatah MBG di sekolahnya. Namun hingga saat ini, mereka belum pernah menerima bantuan makanan gratis tersebut. Padahal, di desa mereka sudah berdiri bangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berwarna biru muda, tetapi belum ada kegiatan pelayanan pemenuhan gizi untuk para siswa.

​Desa Torosiaje sendiri merupakan permukiman panggung di atas permukaan air laut yang berada di lepas pantai Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Sarana transportasi warga sepenuhnya bergantung pada perahu tradisional, terutama jika hendak menuju wilayah daratan.

​”Mungkin ini termasuk daerah 3T, Tertinggal, Terdepan, dan Terluar,” ujar Rijal, salah satu guru di SDN 04 Popayato yang juga warga Torosiaje.

​Salah satu hal yang paling didambakan anak-anak di Torosiaje dalam program MBG adalah lauk daging ayam. Makan daging ayam menjadi sebuah kemewahan yang diimpikan oleh anak-anak pesisir tersebut.

​”Selama ini lauk mereka adalah ikan, sejak bayi sampai sekarang, makanya mereka mendambakan makan ayam,” tutur Wahdian.

​Wahdian mengungkapkan bahwa seluruh warga Torosiaje bermata pencaharian sebagai nelayan, sehingga menu makanan sehari-hari tidak pernah lepas dari hasil tangkapan laut, mulai dari bubara, baronang, cumi, hingga cakalang. Mengonsumsi ikan laut setiap hari membuat anak-anak merasa bosan, sehingga mereka mendambakan makanan yang jarang dijumpai, yakni daging ayam.

​”Sampai sekarang belum ada MBG, kapan MBG datang ke sekolah kami?” ujar Dea, salah satu siswa di SDN 04 Popayato.
​Febri, salah satu warga Torosiaje yang memiliki anak di tingkat sekolah dasar, mengatakan bahwa sejak dulu anak-anak Bajau selalu menginginkan menu ayam, bahkan saat ada hajatan atau jamuan pesta.

​”Kemarin ada pesanan makanan kotak untuk kegiatan di sekolah, kami langsung menyarankan menu ayam, ini yang dicari para siswa,” ujar Febri.

​Meskipun makan ayam menjadi dambaan anak-anak, di Desa Torosiaje tidak ada warga yang memelihara ayam. Hanya beberapa keluarga yang memelihara burung laut dalam sangkar sempit. Desa Torosiaje berdiri kokoh di atas laut dengan rumah-rumah kayu yang ditopang tiang di atas atol Teluk Tomini.

Setiap keluarga memiliki perahu yang ditambatkan di tiang rumah. Tidak ada halaman, kebun, apalagi kandang ayam di perkampungan ini.

​”Tidak heran jika mereka merindukan menu ayam di program MBG ini, sayangnya sampai sekarang belum ada layanan ke daerah ini,” kata Febri.

​Meski keinginan mereka belum terpenuhi, anak-anak Suku Bajau masih percaya bahwa program makanan bergizi gratis dari pemerintah kelak akan sampai ke desa mereka. Mereka tidak pernah jemu menanyakan hal itu kepada setiap tamu baru yang berkunjung.

​”Tamu yang datang selalu dikira petugas yang mengurus MBG,” ujar Wahdian sambil tersenyum.

#beransurmedia #SukuBajau #Torosiaje #MakanBergiziGratis #MBG #SatuanPelayananPemenuhanGizi #SPPG #SDN04Popayato #WahdianDunggio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *