Beransur, Jakarta, 30 Januari 2026 – Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi memudahkan pekerjaan, namun di sisi lain menjadi senjata baru bagi para pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksi penipuan yang sangat meyakinkan.
Salah satu insiden yang nyaris memakan korban dialami oleh Budi (32). Sekira pukul 21.00 WIB, ponselnya berdering dari nomor asing yang mengaku sebagai Customer Service (CS) DANA. Meski awalnya ragu, Budi sempat terkecoh karena suara si penelepon terdengar sangat profesional dan persuasif.
“Selamat malam, Pak Budi. Saya dari tim CS DANA. Kami mendeteksi ada transaksi mencurigakan di akun Bapak senilai Rp 5 juta,” ucap suara di balik telepon tersebut dengan nada tenang namun mendesak.
Penipu tersebut meminta Budi memberikan kode One-Time Password (OTP) yang dikirimkan melalui SMS dengan dalih verifikasi keamanan. Beruntung, kewaspadaan Budi muncul tepat waktu. Ia menyadari bahwa kanal komunikasi resmi DANA biasanya melalui aplikasi atau email terverifikasi, bukan nomor telepon seluler biasa.
Setelah menutup telepon secara sepihak, Budi memeriksa nomor tersebut melalui aplikasi verifikasi nomor. Hasilnya mengejutkan: nomor tersebut telah dilaporkan puluhan kali sebagai alat penipuan.
Suara yang didengar Budi ternyata bukanlah manusia sungguhan, melainkan hasil rekayasa teknologi Voice Cloning. Teknologi ini mampu meniru warna suara, intonasi, hingga gaya bicara seseorang dengan tingkat kemiripan mencapai 99%. Sekretariat Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), Hudiyanto, menjelaskan bahwa AI memungkinkan pelaku merekam dan mempelajari sampel suara hanya dalam hitungan detik.
“Dengan menggunakan suara yang sudah dipelajari tersebut, penipu dapat melakukan percakapan seolah-olah mereka adalah orang yang dikenal korban atau pihak resmi,” jelas Hudiyanto mengutip dari Kompas.com, Sabtu (15/11/2025).
Selain voice cloning, Satgas PASTI juga memperingatkan adanya bahaya deepfake video palsu yang mampu memanipulasi wajah seseorang agar terlihat sedang berbicara secara real-time.
Ciri-ciri penipuan berbasis AI yang perlu diwaspadai:
Skenario Mendesak: Pelaku menciptakan kepanikan (misal: akun diblokir atau ada transaksi ilegal).
Suara Sangat Sopan: Tidak lagi menggunakan nada kasar, melainkan nada profesional layaknya staf bank atau layanan pelanggan resmi.
Permintaan Data Sensitif: Selalu berujung pada permintaan OTP, PIN, atau kata sandi.
”Kuncinya adalah tetap tenang. Jangan mudah tergiur atau takut dengan narasi yang dibangun pelaku. Jika diminta data rahasia, itu sudah pasti penipuan,” tutup Hudiyanto.
Menghadapi ancaman penipuan berbasis AI yang semakin canggih, pengguna platform digital, khususnya keuangan, perlu menerapkan langkah-langkah pencegahan.
Pertama, verifikasi melalui kanal resmi. Jangan langsung percaya pada nomor yang tiba-tiba menelepon, meskipun mengaku dari CS. Jika menerima telepon mencurigakan, langsung tutup dulu. Kemudian, hubungi CS melalui nomor resmi yang tertera di aplikasi atau situs web platform. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa kamu berbicara dengan pihak yang benar-benar resmi.
Jika menerima telepon mencurigakan, langsung tutup dulu. Kemudian, hubungi CS melalui nomor resmi yang tertera di aplikasi atau situs web platform. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa kamu berbicara dengan pihak yang benar-benar resmi.
Kedua, jangan pernah memberikan kode OTP, PIN, atau CVV kartu kredit kepada siapa pun. CS resmi dari platform keuangan digital tidak pernah meminta data sensitif tersebut melalui telepon. Jika ada yang meminta, bisa dipastikan itu adalah upaya penipuan. Data seperti OTP bersifat sangat rahasia dan hanya boleh digunakan oleh pemilik akun.
Jika ada yang meminta, bisa dipastikan itu adalah upaya penipuan. Data seperti OTP bersifat sangat rahasia dan hanya boleh digunakan oleh pemilik akun.
Ketiga, cek nomor telepon yang menghubungi sebelum memberikan informasi apa pun. Bagi pengguna DANA, pengecekan nomor bisa dilakukan di fitur Scam Checker. Fitur ini merupakan Jaminan Anti Penipuan dan tersedia di menu DANA Protection.
Fitur Scam Checker memungkinkan pengguna memverifikasi keaslian nomor telepon, link, akun media sosial, atau nomor rekening yang mengaku dari DANA dalam hitungan detik. Cara mengeceknya cukup mudah. Buka aplikasi DANA, masuk ke menu DANA Protection, pilih Scam Checker atau Cek Risiko Penipuan, lalu masukkan nomor yang ingin diverifikasi.
Cara mengeceknya cukup mudah. Buka aplikasi DANA, masuk ke menu DANA Protection, pilih Scam Checker atau Cek Risiko Penipuan, lalu masukkan nomor yang ingin diverifikasi.
Scam Checker terintegrasi dengan layanan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sehingga hasil verifikasi berbasis data kredibel dari laporan masyarakat. Jika nomor terbukti terdaftar sebagai penipu, pengguna bahkan bisa langsung membuat laporan melalui fitur “Lapor via Aduan Nomor” yang tersambung ke Komdigi. Dengan cara tersebut, pengguna tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu memperkuat database anti-penipuan nasional.
Keempat, waspadai tanda-tanda mencurigakan selama percakapan. Beberapa red flags yang perlu diperhatikan antara lain adalah tekanan waktu yang berlebihan, seperti “segera atau akun akan diblokir”, permintaan data sensitif yang tidak lazim, atau background noise yang aneh dan tidak natural.
Kelima, jangan panik ketika menerima telepon yang mengklaim ada masalah di akun. Pelaku penipuan mengandalkan kepanikan korban agar bertindak cepat tanpa berpikir jernih.
Terakhir, hubungi kanal resmi jika merasa ragu. DANA tidak menghubungi pengguna secara proaktif untuk meminta data sensitif seperti OTP atau PIN. Jika ragu dengan telepon yang diterima, segera hubungi langsung melalui aplikasi DANA lewat fitur chatbot DIANA, e-mail ke help@dana.id, atau call center resmi di nomor 1500 445.
#beransurmedia #penipuanAI #AI #dana #AIpenipuan #pidana #kriminal #hukum beransur.com
