Beransur, Kediri, 28 Desember 2025 – Sebuah patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak menjadi perbincangan hangat (viral) di media sosial. Patung yang niat awalnya dibangun sebagai simbol penjaga desa tersebut menuai beragam reaksi warganet karena bentuknya yang dinilai tidak lazim dan jauh dari kesan gahar.

​Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menjelaskan bahwa ide pembangunan patung tersebut bukanlah tanpa alasan. Patung itu didasarkan pada legenda lokal yang diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Sosok Macan Putih dipercaya sebagai danyang atau pengasuh (momong) desa.

” Desa Balongjeruk itu ada seorang tokoh agama, juga tokoh masyarakat, juga perangkat desa yang namanya mbah maskam itu sering cerita bahwasanya di Desa Balongjeruk itu yang momong atau mungkin kalau zaman dulu itu bisa dikatakan itu adalah pawang atau danyang. itu katanya macan putih gitu,” jelasnya sabtu (27/12/2025)

​Kisah mistis ini bahkan dikuatkan oleh kesaksian mantan kepala desa periode 1998 yang mengaku pernah bertemu langsung dengan sosok gaib tersebut.

” Juga beberapa tokoh masyarakat juga mangatakan orang-orang yang dulu itu juga mengatakan seperti itu, bahwa bahkan, kepala desa yang kurang lebih periode tahun 98-an, itu juga bercerita bahkan sering ketemu macan putih.” lanjutnya.

Berangkat dari cerita tersebut, pihak desa kemudian menggelar musyawarah bersama warga. Hasilnya, disepakati pembuatan patung Macan Putih sebagai simbol legenda dan identitas Desa Balongjeruk

​Menanggapi isu yang beredar, Safi’i menegaskan bahwa pembangunan patung tersebut tidak menggunakan Dana Desa (APBDes) sama sekali, melainkan menggunakan uang pribadinya sendiri.

” Ya, tapi dengan semuanya itu tidak ada keterkaitannya dengan dana desa. Murni hak itu pribadi saya dengan nominal dana Rp 3.500.000 juta. yang Rp 2 Juta itu untuk pemborong pembuat patung dan telapaknya yang Rp 1.500.000 Juta untuk material bahannya.” tegasnya safi”i

Safi’i secara terbuka memohon maaf jika hasil karya tersebut menimbulkan kegaduhan di dunia maya. Namun, ia tetap mengapresiasi atensi masyarakat sebagai masukan untuk berbenah.

” itu yang bisa saya sampaikan dan saya mohon maaf seandainya pembuatan patung ini juga membuat gaduh atau di dunia maya saling apa ya? eh, memberikan komentar, tapi saya selaku kepala desa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua atensi, atas komentar, atas pendapat dan saya tetap mengharapkan sangat.” tuturnya.

menindaklanjuti viralnya patung Macan Putih, Safi’i memastikan patung tersebut akan diganti dengan desain baru yang lebih estetik dan mendekati karakter macan sesungguhnya. Proses pemesanan patung pengganti telah dilakukan kepada perajin diwilayah Ngadiluwih.

​”Ada perjanjian, apabila hasilnya tidak sesuai ekspektasi 90 persen, maka pemesanan dibatalkan,” tegas Safi’i.

​Pimpinan LSM di Kediri, Khairul Anam, turut memberikan komentar. Ia menilai langkah Kades Balongjeruk dalam mengangkat sejarah lokal sudah sangat tepat, meski eksekusi visual patung pertama perlu dievaluasi.

​”Gagasannya bagus sekali karena menggali mitos desa. Hanya saja memang perlu diganti yang lebih estetik sesuai karakter macan agar tidak jadi bahan guyonan,” kata Khairul. Ia berharap momentum viral ini bisa menjadi titik balik positif bagi promosi Desa Balongjeruk ke depannya.

​khairul menegaskan bahwa secara gagasan, ia sangat mendukung upaya mengangkat cerita lokal Desa Balongjeruk.

” Jadi, idenya saya setuju, bahkan sangat setuju karena menggali sejarah dan mitos desa sini.” tandasnya.

ia berharap, viralnya patung Macan Putih justru bisa menjadi titik balik yang positif bagi desa.

” Harapannya begini, karena ini kadung viral dan memang kalau tidak kontroversi seperti ini enggak terkenal. Harapan saya dari yang menertawakan berubah menjadi yang menggembirakan.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *