Beransur, Pekalongan, 25 Januari 2026 – Bencana tanah bergerak disertai longsor hebat melanda permukiman warga di Desa Krompeng, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah pada Sabtu (24/1/2026). Peristiwa ini mengakibatkan kerusakan berat pada infrastruktur rumah tinggal dan memaksa belasan warga meninggalkan kediaman mereka.
Fenomena ini tidak terjadi secara mendadak. Warga melaporkan telah merasakan tanda-tanda pergerakan tanah sejak beberapa hari sebelumnya, yang ditandai dengan lantai rumah yang tiba-tiba terangkat atau amblas. Dinding bangunan retak di berbagai sisi. Pintu rumah yang mendadak sulit dibuka akibat pergeseran struktur bangunan.
Kondisi ini mencapai puncaknya setelah wilayah Pekalongan diguyur hujan deras tanpa henti. Intensitas air yang tinggi memicu longsornya tebing Sungai Kupang, yang turut menyeret pepohonan di sekitarnya dan mengancam fondasi permukiman di atasnya.
Setidaknya enam rumah warga rusak parah, dan sebanyak 17 jiwa terpaksa mengungsi ke rumah kerabat serta tetangga terdekat guna menghindari risiko bangunan roboh.
Yasin (57), salah satu warga terdampak, menceritakan detik-detik mencekam saat ia dan tetangganya bahu-membahu menyelamatkan barang berharga di tengah ancaman tanah yang terus bergeser.
“Ada 17 warga dari enam rumah terdampak terpaksa mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga terdekat,” tutur Yasin.
Yasin mengaku masih khawatir untuk kembali rumah karena takut terjadi retakan susulan dan longsor akibat debit air Sungai Kupang.
“Kalau terjadi hujan lahi sungai bisa meluap dan menggerus tebing hingga ke pemukiman,” terang Yasin.
Hingga saat ini, para pengungsi masih enggan kembali ke rumah masing-masing karena menganggap lokasi tersebut belum aman untuk ditinggali, terutama saat cuaca ekstrem masih berlangsung.
Sementara itu Kepala Desa Krompeng, Nasrudin (43), mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Pihak desa bersama pemerintah kecamatan telah melakukan pendataan dan evakuasi darurat.
“Tentu kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah kabupaten dan instansi terkait, termasuk kemungkinan relokasi warga. Soalnya banjir dan longsor di Sungai Kupang kerap terjadi setiap tahun, namun sekarang yang paling parah,” jelas Nasrudin.
Nasrudin mengungkapkan bahwa meski luapan Sungai Kupang adalah siklus tahunan, bencana kali ini merupakan yang terparah dalam sejarah desa tersebut. Ia pun mendesak Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk segera mengambil langkah strategis.
“Pemkab Pekalongan masih menunggu hasil kajian teknis untuk menentukan apakah lokasi terdampak masih layak dihuni atau perlu dicarikan relokasi permanen,” jelas Nasrudin.(H-2)
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Pekalongan tengah melakukan koordinasi untuk menentukan langkah mitigasi jangka panjang. Keputusan mengenai apakah warga harus direlokasi secara permanen atau cukup dilakukan perbaikan teknis masih menunggu hasil kajian teknis terkait kelayakan hunian di lokasi terdampak. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi pergerakan tanah susulan, mengingat curah hujan di wilayah Jawa Tengah diprediksi masih akan tinggi dalam beberapa hari ke depan.
#beransurmedia #tanahlongsor #tanah #longsor #pekalongan #DesaKrompeng #KecamatanTalun #
