Beransur, Jakarta, 31 Januari 2026 – Di tengah dinamika politik modern, pemikiran tokoh pergerakan nasional Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo kembali relevan sebagai kompas moral bagi pemegang kekuasaan. Kritik tajam Tjipto yang menyatakan, “Jika pemerintah lebih sibuk mengamankan kekuasaannya daripada mensejahterakan rakyat maka itu bukan pemerintahan, melainkan penindasan baru,” menjadi pengingat keras bahwa kekuasaan tanpa tujuan kesejahteraan adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap mandat rakyat.
Sejarah mencatat bahwa pemerintahan yang demokratis sejatinya lahir dari kontrak sosial dengan rakyat. Namun, Tjipto menengarai adanya kecenderungan di mana prioritas penguasa sering kali bergeser. Bukannya fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dan keadilan sosial, energi negara justru kerap terkuras untuk memelihara stabilitas kursi jabatan dan wewenang.
Ketika keamanan kekuasaan (status quo) menjadi prioritas utama, terjadi pergeseran paradigma yang berbahaya. Rakyat tidak lagi dipandang sebagai subjek yang harus dilayani, melainkan objek yang harus diawasi dan dikendalikan. Regulasi yang lahir cenderung bersifat membatasi ruang gerak kritik dan perbedaan pendapat demi melanggengkan dominasi politik.
Dalam analisis pemikiran Tjipto, negara yang gagal menjalankan fungsinya sebagai pelindung akan berubah wajah. Alih-alih memberikan rasa aman melalui jaminan hukum dan kesejahteraan, keberadaan alat negara justru sering kali dirasakan sebagai sumber intimidasi bagi mereka yang memiliki pandangan berbeda.
Legitimasi sebuah rezim, menurut Tjipto, sama sekali tidak bisa diukur dari seberapa kuat aparat keamanan yang dikerahkan atau seberapa lama seseorang mampu bertahan di tampuk kepemimpinan. Indikator tunggal kesuksesan sebuah pemerintahan adalah sejauh mana keadilan dan kemakmuran dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat akar rumput.
”Pemerintahan yang melupakan tujuan kesejahteraan rakyat sedang mengkhianati hakikatnya sendiri. Mereka secara perlahan membangun wajah baru dari penindasan lama yang dahulu kita lawan bersama.”
Pesan Tjipto Mangoenkoesoemo adalah sebuah peringatan abadi. Tanpa adanya komitmen moral untuk menyejahterakan rakyat, struktur pemerintahan hanya akan menjadi cangkang kosong yang menampung ambisi pribadi atau kelompok. Membangun bangsa bukan tentang seberapa lama kekuasaan digenggam, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi orang banyak.
#beransurmedia #TjiptoMangoenkoesoemo #peringatanabadi #kesejahteraanrakyat #penguasa #kelompok
