Beransur, Jakarta, 14 Februari 2026 – Indonesia kembali mengguncang dunia arkeologi internasional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim peneliti gabungan dari Australia baru saja mengumumkan temuan seni cadas (rock art) tertua di dunia berupa cap tangan manusia yang diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun.
Temuan yang berlokasi di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, ini resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Nature, dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”. Penemuan ini tidak hanya memecahkan rekor usia seni rupa manusia, tetapi juga mengubah peta sejarah migrasi manusia modern (Homo sapiens) di dunia.
Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Octavian, menjelaskan bahwa situs Leang Metanduno menyimpan kekayaan visual yang luar biasa. Selain stensil cap tangan yang ikonik, gambar-gambar di gua tersebut juga merekam jejak kompleksitas kognitif manusia purba. Gambar menunjukkan hubungan mendalam antara manusia dengan hewan dan lingkungan sekitarnya. Terdapat representasi visual yang menggambarkan interaksi sosial masyarakat pada masa itu. Menempatkan Indonesia sebagai pusat sejarah awal seni simbolik dan kemampuan penjelajahan laut manusia modern.
Kepastian usia lukisan ini didapat melalui teknologi mutakhir yang dipaparkan oleh Prof. Maxime Aubert, ahli arkeologi dan geokimia dari Griffith University dan Southern Cross University. Dalam konferensi pers di Gedung BJ Habibie, Jakarta, ia menjelaskan penggunaan teknik laser-ablation uranium-series (LA–U-series).
”Prinsip penanggalan seni cadas sebenarnya sederhana namun sangat presisi. Prosesnya berawal dari air hujan yang meresap ke dalam batu kapur gua dan membentuk lapisan kalsit mikroskopis di atas lukisan tersebut,” ujar Prof. Maxime.
Dengan menembakkan laser pada lapisan kalsit yang menutupi gambar, peneliti dapat menghitung peluruhan uranium menjadi torium untuk menentukan kapan lapisan mineral tersebut terbentuk, sehingga usia minimum lukisan di bawahnya dapat diketahui dengan sangat akurat.
Selain aspek seni, temuan ini menjadi kunci penting dalam memetakan jalur migrasi manusia ke wilayah Asia-Pasifik. Indonesia terbukti menjadi titik strategis atau koridor utama pergerakan manusia sejak puluhan ribu tahun lalu.
Adhi Agus Octavian menyebutkan ada dua model besar migrasi Early Modern Human yang melintasi Nusantara. Merema bergerak dari Kalimantan menuju Sulawesi, lalu ke Papua, dan berakhir di Australia.Jalur alternatif yang juga digunakan pada periode tertentu dalam sejarah manusia.
Penemuan di Pulau Muna ini memperkuat posisi Indonesia dalam kajian prasejarah global. Dengan temuan ini, narasi sejarah seni rupa dunia yang sebelumnya berpusat di Eropa kini bergeser ke arah Wallacea (kawasan Indonesia Tengah).
Seni cadas ini membuktikan bahwa nenek moyang kita di Sulawesi sudah memiliki kemampuan berpikir abstrak dan budaya yang sangat maju jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.
#beransurmedia #captangan #BadanRisetdanInovasiNasional #BRIN #sulawesi #eropa #asia #indonesia #australia #budaya beransur.com
