Beransur, Jakarta 19 Oktober 2025 – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, angkat suara menanggapi tayangan ‘Xpose Uncensored’ di Trans7 yang dianggap banyak kalangan menuai kontroversi.

Dalam pernyataannya, Haedar Nashir menekankan pentingnya peran media dalam membentuk karakter bangsa, khususnya generasi muda, dan menyerukan agar lembaga penyiaran melakukan evaluasi mendalam terhadap konten yang disajikan.

​Prof. Haedar Nashir menyampaikan pandangannya, menyoroti bahwa tayangan xpose uncensored menjadi momentum introspeksi bagi semua pihak, baik media, lembaga keagamaan, maupun masyarakat umum. Dia menyatakan, seluruh pihak saling berintrospeksi. Khususnya bagi trans7, profesionalisme harus ditunjukkan dan ditingkatkan.

“Media harus menjadi agen pencerahan, bukan justru sebaliknya. Konten yang disajikan harus mampu memberikan inspirasi, edukasi, dan contoh teladan yang baik,” ujarnya.

​Ia menambahkan bahwa program-program yang menampilkan sisi-sisi negatif atau memicu sensasi berlebihan, tanpa diimbangi dengan pesan moral dan pembelajaran yang kuat, dapat berdampak buruk pada proses pembentukan karakter, terutama bagi anak-anak dan remaja yang masih mencari jati diri. “Kita tidak ingin generasi muda kita tercerabut dari nilai-nilai luhur bangsa hanya karena asupan media yang kurang bertanggung jawab,” tegas Haedar.

​Motivasi untuk Pembelajaran: Literasi Media dan Tanggung Jawab Penyiaran

​Kasus ini memberikan kita sebuah momentum penting untuk berefleksi dan mengambil pembelajaran berharga

Bagi Masyarakat dan Pemirsa:

Mari kita tingkatkan literasi media kita. Jangan mudah menelan mentah-mentah segala informasi dan tayangan yang disajikan.

Jadilah penonton yang cerdas, yang mampu memilah mana konten yang mendidik, informatif, dan positif, serta mana yang perlu dihindari atau dikritisi. Berikan umpan balik konstruktif kepada lembaga penyiaran agar mereka memahami aspirasi dan kebutuhan masyarakat akan tayangan berkualitas. Ini adalah bentuk partisipasi aktif kita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

​Bagi Lembaga Penyiaran dan Produser Konten:

Kasus ini adalah pengingat akan tanggung jawab besar yang diemban. Media memiliki kekuatan untuk membangun, namun juga dapat merusak.

Hendaknya setiap program yang akan ditayangkan melewati proses filterisasi yang ketat, tidak hanya dari sisi komersial, tetapi juga dari aspek edukasi, etika, dan dampaknya terhadap khalayak. Inovasi dalam menciptakan konten yang menarik tidak harus selalu beririsan dengan sensasi negatif. Justru, kreativitas sejati adalah kemampuan menyajikan hiburan yang cerdas dan mendidik secara bersamaan.

​Pembelajaran dari peristiwa ini adalah bahwa media dan masyarakat memiliki peran saling melengkapi. Media bertugas menyajikan konten berkualitas, dan masyarakat bertugas menjadi konsumen media yang bijak.

Dengan begitu, kita bisa bersama-sama menciptakan ekosistem media yang sehat, yang berkontribusi pada kemajuan dan pembentukan karakter bangsa yang unggul. Semoga kejadian ini menjadi pemicu bagi perbaikan menyeluruh dalam industri penyiaran di Indonesia.

#beransur #angkat #suara #ketua #umum #muhammadiyah #profhaedernashir #mengajak #introspeksi #masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *