Beransur, Bekasi, 15 Maret 2026 – Suasana senyap di Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, mendadak mencekam pada Sabtu (14/3/2026) dini hari. Seorang remaja laki-laki berinisial MRH (15) nekat memanjat tower GSM setinggi kurang lebih 20 meter, memicu operasi penyelamatan dramatis yang berlangsung selama lebih dari dua jam.
Laporan pertama diterima oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi, yang segera menerjunkan Tim Rescue Kompi A ke lokasi. Setibanya di sana sekitar pukul 03.15 WIB, petugas dihadapkan pada situasi yang sulit: penerangan yang sangat minim serta kondisi struktur tower yang sudah tua.
”Towernya itu agak goyang. Tapi alhamdulillah kami dilindungi sama Tuhan,” ujar Komandan Rescue Kompi A Disdamkarmat Kota Bekasi, Hendrick, saat dikonfirmasi pada Minggu (15/3/2026).
Untuk mengatasi kendala visual, tim mengerahkan lampu tembak dari unit mobil Gajah Mada Triton guna memecah kegelapan, sementara petugas mulai memanjat dengan perlengkapan safety lengkap, mulai dari wearpack full body, karabiner, hingga tali pengaman.
Kunci keberhasilan evakuasi ini bukan sekadar alat canggih, melainkan pendekatan psikologis. Hendrick mengungkapkan bahwa MRH awalnya sempat membantah dan menolak untuk turun. Dalam kondisi tergantung di ketinggian, Hendrick mencoba merangkul dan memberikan motivasi kepada remaja tersebut.
“Saya sempat beri motivasi ke dia. ‘Kamu masih kecil. Kasihan orang tua kamu, perjalanan kamu masih panjang,’” ujar Hendrick saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (15/3/2026).
Menurut Hendrick, MRH diduga sedang mengalami tekanan psikologis yang mendorongnya melakukan aksi tersebut. Petugas kemudian mencoba menenangkan korban dengan merangkulnya sambil memberikan dukungan moral
“Terus saya rangkul dia sambil saya yakinkan. ‘Sudah, kamu jangan malu nanti sama teman-teman kamu, semua manusia pasti punya kekurangan dan kesalahan. Yakin ya Dek?’” kata Hendrick.
Setelah dipeluk dan diyakinkan bahwa ia tidak akan dihakimi oleh lingkungan sosialnya, pertahanan mental MRH luruh. Ia akhirnya bersedia dievakuasi turun bersama petugas.
Berdasarkan hasil asesmen sementara, aksi nekat ini diduga kuat dipicu oleh masalah asmara atau “cinta monyet”. Namun, pihak Damkar menekankan bahwa persoalan asmara tersebut hanyalah pemicu dari kondisi psikologis yang sudah rapuh akibat tekanan lingkungan atau keluarga.
Plt. Kepala Disdamkarmat Kota Bekasi, Heryanto, mengonfirmasi bahwa proses pembujukan hingga korban benar-benar menapak di tanah memakan waktu sekitar 2,5 jam. Hendrick mengungkapkan bahwa saat berada di atas tower, korban sempat menolak untuk turun.
“Awal di atas dia menolak dan membantah. Cuma saya peluk langsung. Alhamdulillah dia mau turun,” kata Hendrick. Ia menduga aksi tersebut dipicu persoalan asmara yang dialami korban. “Benar, faktor asmara. Umur segitu kan namanya cinta monyet,” ujarnya.
Meski demikian, Hendrick menilai faktor psikologis dan tekanan lingkungan juga dapat memengaruhi kondisi korban.
“Tapi dicampur asmara itu memang ada faktor psikis juga, tekanan dari orang tua atau lingkungan,” kata dia.
Hendrick memberikan pesan keras kepada warga dan tetangga agar tidak menjadikan kejadian ini sebagai bahan olokan. Tekanan sosial pasca-kejadian justru dikhawatirkan akan memperburuk kondisi mental korban.
”Saya memberikan arahan kepada korban, orang tuanya, dan tetangga supaya saling mendukung dan tidak membuatnya jadi bahan ejekan,” tegasnya.
Pada saat proses penyelamatan, Hendrick memanjat tower menggunakan perlengkapan keselamatan. Peralatan yang digunakan antara lain senter LED khusus evakuasi, karabiner, tali pengaman, serta wearpack full body.
“Ini agar naik atau turun ada keamanan tambahan, termasuk alat bantu tangga,” ujarnya.
Kurangnya penerangan di lokasi juga sempat menjadi faktor kendala saat proses penyelamatan.
“Sebelum tim datang, penerangan warga cuma berdasarkan senter saja. Setelahnya kami bantu senter dan lampu tembak dari mobil rescue,” kata Hendrick.
Selain peralatan, tim rescue juga mengerahkan sejumlah kendaraan operasional, yakni unit Gajah Mada Triton dan mobil Kijang.
“Gajah Mada Triton memang khusus untuk rescue lengkap dengan peralatan. Sedangkan Kijang untuk operasional biasa,” ujarnya. Dalam operasi tersebut, Hendrick menurunkan tiga regu dari Kompi A.
Satu regu ada lima orang. Lima kali tiga jadi 15 orang, ditambah saya jadi 16 orang diterjunkan. Kondisi tower yang sudah cukup lama berdiri juga menjadi tantangan bagi petugas saat melakukan evakuasi.
Pelaksana tugas Kepala Disdamkarmat Kota Bekasi, Heryanto, mengatakan tim tiba di lokasi sekitar pukul 03.15 WIB. Petugas kemudian melakukan pendekatan persuasif bersama keluarga korban agar MRH bersedia turun dengan aman. “Setelah kami lakukan pendekatan dan orang tuanya juga mencoba menuruti apa yang diinginkan, yang bersangkutan mau turun dan selamat,” kata Heryanto. Menurut dia, proses pembujukan hingga evakuasi berlangsung sekitar dua setengah jam.
“Alhamdulillah kami selesai evakuasi sekitar pukul 05.45 WIB,” ujarnya
#beransurmedia #remaja #naiktower #tower #anakmuda #asmara #putuscinta #heryanto #DinasPemadamKebakarandanPenyelamatan #Disdamkarmat #kotabekasi #bekasi
