Beransur, Jakarta 29 November 2025 – Presiden Prabowo Subianto tampaknya sudah habis kesabaran dengan masalah di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Bos Keuangan, Menteri Purbaya Yudhi Sadewa, dikasih waktu satu tahun untuk “bersih-bersih total” di Bea Cukai.
Kalau reformasi ini gagal, ancamannya serem banget: Bea Cukai bakal dibekukan, dan 16.000 pegawainya bisa kehilangan pekerjaan!
Kenapa Bea Cukai Diancam?
Keputusan keras ini muncul karena masalah di Bea Cukai enggak kelar-kelar dan sudah bikin citra negara rusak. Masalah utamanya adalah:
Under-Invoicing (Mark-up/Mark-down Nilai Barang): Ini masalah paling serius. Nilai barang impor dan ekspor dicatat lebih rendah dari yang seharusnya, bikin
penerimaan negara (pajak dan bea masuk) berkurang drastis.
Barang Ilegal: Maraknya dugaan masuknya barang ilegal, termasuk beras ilegal, yang menunjukkan lemahnya pengawasan di pelabuhan dan bandara.
Integritas Pegawai: Masalah dugaan korupsi dan praktik curang yang sudah jadi sorotan publik bertahun-tahun.
Menteri Purbaya bilang, dia sudah minta waktu ke Presiden untuk fokus memperbaiki DJBC, karena ancaman pembekuan itu nyata dan serius.
“Saya sudah minta waktu ke Presiden satu tahun untuk enggak diganggu dulu, beri waktu saya memperbaiki Bea Cukai. Karena ancamannya serius,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Kamis (27/11/2025).
Apa yang Harus Diperbaiki dalam 1 Tahun?
Pemerintah menuntut Bea Cukai segera berubah total, fokus pada 5 hal utama:
Transparansi Pelayanan: Proses harus jelas dan terbuka.
Akurasi Data: Data impor/ekspor harus benar dan enggak ngaco.
Integritas Pegawai: Pegawai harus jujur, bersih dari praktik curang.
Kualitas Pengawasan: Pengawasan barang masuk dan keluar harus ketat.
Efisiensi Proses: Proses perizinan enggak boleh ribet dan lama.
Kalau gagal total, Pemerintah siap mengambil langkah ekstrem. Fungsi Kepabeanan bisa diserahkan ke perusahaan swasta internasional seperti SGS (Société Générale de Surveillance), persis seperti yang pernah dilakukan zaman Presiden Soeharto dulu (tahun 1985–1995).
“Kalau Bea Cukai enggak bisa memperbaiki kinerjanya dan masyarakat masih enggak puas, Bea Cukai bisa dibekukan dan diganti SGS seperti zaman dulu,” tegasnya.
Pakai Teknologi AI! Untuk memberantas kecurangan, Kementerian Keuangan mulai memasukkan Kecerdasan Buatan (AI) di berbagai stasiun Bea Cukai. Teknologi ini bakal jadi andalan buat:
Deteksi Cepat Under-Invoicing, Mencari Pola Penyelundupan dan Anomali Nilai Transaksi.
Mempercepat Deteksi Risiko Kepabeanan.
Menteri Purbaya yakin, dengan bantuan AI dan tata kelola baru, DJBC tahun depan akan bekerja jauh lebih profesional.
#beransur #bea #cukai #prabowosubianto #prabowo #purbaya #DJBC #tatakelola #SGS
“AI sudah kita terapkan di stasiun-stasiun Bea Cukai. Under-invoicing akan cepat terdeteksi sambil kita perbaiki aspek lainnya,” kata Purbaya.
Saat ini, investigasi sedang berjalan menyeluruh, termasuk pemeriksaan petugas di lapangan, Semua pegawai Bea Cukai diminta sadar betapa seriusnya ancaman ini dan harus menunjukkan komitmen untuk berubah.
Dalam rapat sebelumnya, DPR menyoroti potensi praktik ilegal di Pelabuhan Batam dan Sabang. Purbaya menegaskan bahwa investigasi menyeluruh sedang berlangsung termasuk pemeriksaan personel di lapangan
Bahkan masalah ketiadaan petugas Bea Cukai di salah satu bandara turut menjadi perhatian.
“Setahu saya anak buah saya nggak ada di sana, tapi akan saya cek,” ujarnya.
