Beransur, Jakarta, 15 Februari 2026 – Rentetan bencana banjir bandang yang melanda berbagai wilayah di Indonesia belakangan ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan keras bahwa frekuensi banjir yang terus meningkat adalah “alarm ekologis” yang menandakan keruntuhan fungsi ekosistem hutan kita.

Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Hendra Gunawan, menegaskan bahwa banjir bandang saat ini harus dibaca sebagai alarm ekologis atau tanda terjadinya keruntuhan fungsi ekosistem (ecosystem collapse).

“Banjir bandang bukan lagi kejadian alam biasa, melainkan sinyal bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam telah berada pada kondisi kritis,” jelas Hendra dikutip dari website BRIN, Sabtu (14/2/2026).

Foto udara yang menunjukkan area gundul di tengah rimbunnya hutan (seperti yang terlihat dalam unggahan tersebut) menjadi bukti nyata adanya fragmentasi lahan. Aktivitas pembukaan lahan, baik untuk pertambangan, perkebunan, maupun pembangunan infrastruktur yang tidak terkendali, telah merusak struktur tanah.

​Ketika hutan kehilangan vegetasinya, tanah kehilangan kemampuannya untuk menyerap air hujan (infiltrasi). Alhasil, air hujan langsung mengalir di permukaan tanah sebagai run-off, membawa material lumpur, batu, dan kayu yang kemudian memicu banjir bandang di kawasan hilir.

​Peringatan dari peneliti BRIN, Kerusakan Struktur Ekosistem terjadi di hutan tidak lagi mampu menjalankan fungsi hidrologisnya untuk mengatur debit air. Selain banjir, kerusakan ini mengancam habitat asli flora dan fauna endemik Indonesia. Penggundulan hutan memperburuk pemanasan suhu lokal yang mengubah pola curah hujan menjadi lebih ekstrem.

​”Memulihkan ekosistem hutan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk mencegah keruntuhan total yang dapat mengakibatkan bencana kemanusiaan yang lebih besar,” tegas salah satu peneliti BRIN dalam laporan tersebut.

Pemerintah dan pemangku kepentingan didesak untuk segera melakukan langkah-langkah konkret, di antaranya: Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yaitu Menanam kembali area kritis dengan pohon yang memiliki akar kuat untuk mengikat tanah. Meninjau kembali izin-izin konsesi di area resapan air dan hulu sungai.Mengedukasi Masyarakat untuk meningkatkan kesadaran warga di sekitar hutan untuk menjaga kelestarian lingkungan demi keselamatan bersama.

Hendra memaparkan bahwa keruntuhan ekosistem hutan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses spasial bertahap yang sering luput dari perhatian publik maupun pengambil kebijakan.

“Perubahan lanskap hutan itu gradual. Awalnya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terakumulasi,” ujarnya.

​Tragedi banjir bandang yang terus berulang adalah pesan dari alam bahwa daya dukung lingkungan kita sudah mencapai titik batas. Tanpa tindakan pemulihan yang masif, “alarm” ini akan berubah menjadi malapetaka permanen bagi generasi mendatang.

Sebaliknya, apabila hutan ditempatkan sebagai sistem penyangga kehidupan, arah pembangunan dapat disusun untuk menjaga resiliensi ekosistem sekaligus memastikan keberlanjutan kesejahteraan manusia.

“Sudah saatnya kita belajar dari alam, sebelum alarm ekologis ini berubah menjadi keruntuhan yang tidak lagi dapat dipulihkan,” pungkasnya.

#beransurmedia #ekosistemhutan #hutan #alam #banjirbandang #lingkungan #pemulihan beransur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *