​JAKARTA – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, secara tegas meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk segera melakukan modernisasi sistem pengawasan pasar modal. Luhut menekankan pentingnya adopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) atau akal imitasi guna menciptakan ekosistem investasi yang lebih transparan dan kredibel.

​Langkah ini diambil menyusul adanya sorotan tajam dari dunia internasional, termasuk peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), terkait integritas transaksi di bursa saham domestik.

​Menurut Luhut, pola transaksi manual atau konvensional sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi kompleksitas pasar saat ini. Penggunaan AI dinilai krusial untuk mendeteksi pergerakan harga saham yang tidak wajar dan tidak didasari oleh fundamental perusahaan. Praktik manipulasi pasar yang sering merugikan investor ritel. Deteksi dini terhadap aktivitas insider trading atau wash sales.

​Luhut mengungkapkan bahwa adopsi teknologi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga reputasi pasar modal Indonesia di mata investor global. Insiden yang memicu peringatan dari MSCI menjadi alarm keras bahwa sistem pengawasan saat ini masih memiliki celah yang bisa dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

​”Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat memperkuat pengawasan, meningkatkan kualitas penegakan aturan, serta memperkecil ruang bagi praktik-praktik yang tidak fair,” ujar Luhut dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).

​Dengan integrasi AI, sistem pengawasan diharapkan dapat bekerja secara proaktif, bukan sekadar reaktif setelah kerugian terjadi. Digitalisasi pengawasan ini diproyeksikan akan meningkatkan akurasi deteksi kecurangan hingga ke level transaksi terkecil. Mempercepat durasi investigasi terhadap emiten yang bermasalah. Memberikan perlindungan lebih bagi investor kecil dari fluktuasi harga yang dimanipulasi.

“Kebijakan ini harus menjadi bagian dari paket reformasi yang mendorong transparansi dan fairness, sehingga peningkatan free float dapat diserap pasar secara sehat berdasarkan valuasi yang transparan,” jelasnya.

Pemerintah mendorong percepatan demutualisasi BEI untuk meminimalkan benturan pelonggaran batas atas investasi saham bagi dana pensiun dan asuransi hingga 20% demi memperdalam likuiditas domestik.

Purnawirawan perwira TNI ini memandang perombakan jajaran direksi BEI dan OJK sebagai momentum strategis untuk seleksi pemimpin yang berani mengeksekusi perubahan.

“Kita tidak perlu panik. Peringatan MSCI adalah momentum untuk mempercepat reformasi struktural guna mewujudkan pasar modal Indonesia yang lebih sehat, transparan, adil, dan semakin kompetitif,” jelasnya.

​Hingga berita ini diturunkan, pihak BEI dan OJK sedang mengkaji implementasi teknis dari instruksi tersebut untuk memastikan infrastruktur digital bursa siap menghadapi transisi ke pengawasan berbasis akal imitasi ini.

#beransurmedia #BEI #BursaEfekIndonesia #OJK #OtoritasJasaKeuangan #MSCI #TNI #perwira #luhut #DewanEkonomiNasional #DEN #AI #ArtificialIntelligence #MorganStanleyCapitalInternational beransur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *