Beransur, Jakarta, 1 Febuari 2026 – Kondisi Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, saat ini tengah menjadi sorotan tajam. Ribuan kapal nelayan terpantau menumpuk dan memadati area pelabuhan, menciptakan kepadatan luar biasa yang melumpuhkan kelancaran arus keluar-masuk kapal.
Tokoh masyarakat nelayan Muara Angke, James Willing, menyatakan bahwa situasi ini bukanlah masalah baru. Menurutnya, para nelayan sudah berulang kali mengeluhkan kondisi tersebut kepada pihak terkait, namun hingga kini belum ada tindakan nyata yang mampu mengurai kemacetan kapal di pelabuhan tersebut.
“November udah parah ini, macetnya udah parah,” katanya saat ditemui Awak media di lokasi, Rabu (28/1/2026).
James mengatakan, kepadatan yang terjadi membuat proses bongkar muat kapal miliknya memakan waktu hingga dua hari.
“Kapal kami mau masuk aja, ya Allah, itu dua hari dua malam. Padahal jalan kaki kami itu lima menit atau 10 menit enggak nyampe (ke ujung dermaga),” ujarnya.
Berdasarkan konfirmasi dari para nelayan di lapangan, tercatat sekitar 2.500 kapal menumpuk dan terparkir sejak November 2025. Kepadatan ini secara langsung menghambat aktivitas nelayan yang hendak melaut, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan produktivitas dan penghasilan mereka.
“Kurang lebih sekarang ini kalau kita lihat total keseluruhan kan dari data dari Kementerian Kelautan Perikanan itu kurang lebih 2.500-an, (unit kapal)” ungkapnya.
James menyatakan, kondisi tersebut sangat berdampak langsung pada penurunan pendapatan nelayan dan pemilik kapal.
“Saya mengalami, terus terang aja ya, omzet saya menurun. Kurang lebih 30 persen saya menurun. Dalam waktu dua bulan inilah,” ungkapnya.
Sejak kepadatan dermaga meningkat sekitar November 2025, pendapatan usahanya hanya berada di kisaran Rp 700–800 juta.
“Padahal saya salah satu yang namanya taat dengan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) lho. Kita itu kalau PNBP turun kita bayar,” kata dia.
Para nelayan kini menaruh harapan besar kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mereka mendesak Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk segera turun tangan membereskan masalah manajemen pelabuhan ini.
“Saya bilang ini mudah sebenarnya, permasalahan ini bisa selesai asal Pemprov turun, selesai. Tapi kalau Pemprov enggak turun kami itu sebagai masyarakat doang yang punya kapal. Bagaimana cara mengatasinya?” ucapnya.
Meski seluruh kapal di dermaga tersebut sudah memiliki freezer untuk membekukan Ikan, sistem freezer kompresor membutuhkan air laut dalam untuk mendinginkan mesinnya.
“Kalau kerugian kualitas menurun pasti kerugian di harga nilainya terjual itu udah pasti,” jelasnya.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta segera menyelesaikan kesemrawutan lalu lintas kapal di Dermaga Kali Asin, Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.
“Sebenarnya itu kan menyangkut kapal keluar masuk, bukan menyangkut di daratannya, pengaturan kapalnya. Tetapi saya sudah meminta kepada Dinas Perhubungan dan KKP untuk selalu bekerja sama menangani persoalan itu,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu.
Akibat kondisi tersebut, kapal-kapal yang datang dari laut mengalami kesulitan untuk melakukan pengisian perbekalan di kolam labuh karena terhalang posisi kapal lain.
“Kondisi ini juga menyulitkan kapal-kapal yang dokumennya telah lengkap untuk berangkat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu.
Mahad juga mengaku kesulitan mengatur lalu lintas kapal akibat kondisi kolam labuh yang sudah penuh dan tidak memiliki ruang gerak yang memadai.
#beransurmedia #nelayan #kapallaut #KKP #dinasperhubungan #pramonoanung #dki jakarta #muaraangke beransur.com
