Beransur, Bekasi, 31 Januari 2026 – Di tengah deru gaya hidup modern yang serba cepat, masyarakat sering kali terjebak dalam definisi tunggal mengenai kemiskinan: kondisi ekonomi di mana seseorang kekurangan harta benda. Namun, para pakar perilaku dan pengamat sosial kini mulai menyoroti jenis kemiskinan lain yang jauh lebih melelahkan, yakni kemiskinan hati.
Banyak orang mengira kemiskinan hanya soal isi dompet. Padahal, ada jenis miskin yang tidak terlihat namun dampaknya terasa secara mental dan emosional. Ini adalah kondisi di mana seseorang selalu merasa kurang, selalu ingin lebih, dan tidak pernah selesai dengan keinginannya sendiri.
Keinginan yang tak ada habisnya terbukti membuat hidup terasa sempit. Dalam pengamatan psikologis, fenomena ini sering disebut sebagai “treadmill hedonik”, di mana seseorang terus mengejar kepuasan namun posisinya tetap di tempat yang sama secara emosional.
Apa pun yang dimiliki tidak pernah cukup lama untuk disyukuri. Mengapa? Karena pikiran sudah terlalu sibuk membandingkan pencapaian pribadi dengan standar orang lain. Akibatnya, hidup hanya menjadi ajang kejar-kejaran tanpa garis akhir yang jelas, hingga seseorang sering kali lupa menikmati apa yang sudah ada di tangan.
Perspektif ini menawarkan standar baru dalam menilai kualitas hidup:
Bukan mereka yang sedikit hartanya, melainkan mereka yang hatinya penuh dengan tuntutan yang tidak realistis. Ketika keinginan dibiarkan berlebihan, hidup akan terasa berat dan menyesakkan meski secara materi semuanya serba ada. Kekuatan “Cukup” Sebaliknya, kemampuan untuk merasa cukup membuat langkah hidup lebih ringan dan tenang, meski keadaan masih sangat sederhana.
Pesan utama dari fenomena ini adalah pentingnya mengelola ekspektasi. Kekayaan sejati ternyata bukan terletak pada seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan pada seberapa sedikit kita membutuhkan sesuatu untuk merasa bahagia.
Dengan berhenti membandingkan dan mulai mengapresiasi hal-hal kecil, seseorang sebenarnya sedang membangun kekayaan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang. Pada akhirnya, kemiskinan hati adalah pilihan, dan merasa cukup adalah kekayaan yang paling mewah.
#beransurmedia #fenomena #bahagia #miskin #pemikir #kemiskinan beransur.com
