Beransur, Washington D.C. 29 Januari 2026– Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat secara resmi menambah kekuatan tempurnya di kawasan tersebut. Kehadiran kelompok tempur kapal induk terbaru kini menggenapkan jumlah kapal perang AS menjadi 10 unit, memberikan Presiden Donald Trump daya tembak signifikan di tengah ancaman konflik terbuka dengan Teheran.

​Berdasarkan laporan AFP pada Rabu (28/1/2026), armada yang dikerahkan saat ini memiliki skala yang setara dengan kekuatan yang dikirim AS ke Karibia menjelang operasi penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro.

​Inti dari kekuatan ini adalah USS Abraham Lincoln (CVN-72), sebuah kapal induk bertenaga nuklir yang membawa jet tempur siluman generasi kelima F-35C. Selain kapal induk, armada ini mencakup, ​3 Kapal Perusak (Destroyers) yang mengawal kelompok kapal induk. ​3 Kapal Perusak tambahan yang beroperasi secara mandiri di wilayah tersebut. ​3 Kapal Tempur Pesisir (Littoral Combat Ships) untuk operasi di perairan dangkal.

​Melalui platform Truth Social, Presiden Trump menegaskan kesiapan militer AS.

“Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu,” tulisnya.

Ia juga menambahkan pesan singkat yang seakan mendesak

“Waktu hampir habis,” mendesak Iran untuk segera melakukan negosiasi kesepakatan baru.

​Pengerahan besar-besaran ini merupakan respons langsung terhadap situasi internal Iran yang kian memburuk. Protes massa yang awalnya dipicu oleh krisis ekonomi telah berkembang menjadi gerakan nasional melawan pemerintahan Republik Islam.

Dukungan Perlawanan dari Gedung Putih mendorong warga Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara, menjanjikan bahwa bantuan AS sedang dalam perjalanan. Trump sempat menarik perintah serangan awal bulan ini setelah Teheran dilaporkan menunda eksekusi terhadap 800 orang di bawah tekanan diplomatik, namun ancaman serangan kembali diaktifkan menyusul laporan kekerasan yang berlanjut.

​Menanggapi gertakan Washington, Misi Teheran untuk PBB menyatakan posisi defensif namun agresif melalui unggahan di media sosial X. Meskipun menyatakan masih terbuka untuk dialog, Iran menegaskan tidak akan mundur jika kedaulatannya dilanggar.

“Kami akan membela diri dan memberikan respons yang belum pernah terjadi sebelumnya jika diserang,” bunyi pernyataan resmi tersebut.

​Para analis memperingatkan bahwa dengan 10 kapal perang yang kini bersiaga di Teluk, ruang untuk kesalahan komunikasi sangatlah sempit. Dunia kini menanti apakah tekanan militer Trump akan memaksa Iran ke meja perundingan atau justru memicu konfrontasi bersenjata terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

#beransurmedia #AmerikaSerikat #iran #DonaldTrump #Teheran #PBB #AFB #ekonomi #perangduniaIII #militer #negara beransur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *