Beransur, Bekasi, 24 Januai 2026 – Masyarakat di wilayah Jabodetabek, khususnya Kota Bekasi, diprediksi akan kesulitan mendapatkan pasokan daging sapi di pasar tradisional dalam beberapa hari ke depan. Hal ini menyusul aksi mogok berjualan yang dilakukan oleh para pedagang daging sapi mulai Kamis (22/1) hingga Sabtu (24/1).
Aksi ini dipicu oleh kondisi harga komoditas daging yang dianggap sudah tidak masuk akal bagi para pedagang kecil. Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa alasan utama yang mendasari protes ini antara lain. Harga sapi timbang hidup dan sapi impor terus merangkak naik. Melambungnya harga daging karkas di tingkat Rumah Potong Hewan (RPH). Harga jual yang terpaksa dinaikkan membuat minat beli masyarakat menurun drastis, sehingga pedagang merugi.
Di Pasar Baru Bekasi, spanduk seruan mogok sudah terpasang sebagai bentuk solidaritas antar-pedagang. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi mencatat adanya anomali harga yang cukup signifikan sebelum aksi ini dimulai.
”Harga normal daging sapi biasanya berada di kisaran Rp130.000 per kilogram, namun saat ini melonjak hingga Rp135.000 sampai Rp140.000 per kilogram,” lapor pihak Disdagperin.
Analis Perdagangan Disdagperin Kota Bekasi, Eko Wijatmiko, memastikan bahwa aksi yang dilakukan oleh para pedagang murni merupakan mogok berjualan dan tidak disertai dengan demonstrasi atau unjuk rasa di jalanan.
”Kami telah melakukan pemantauan di pasar-pasar. Aksi ini hanya mogok dagang. Kami mengimbau para pedagang untuk tetap menjaga kondusivitas selama aksi berlangsung,” ujar Eko saat meninjau pasar pada Rabu (21/1).
Pemerintah Kota Bekasi melalui Disdagperin menyatakan akan menampung aspirasi para pedagang dan segera meneruskan keluhan terkait tingginya harga daging ini ke pemerintah pusat agar segera diambil langkah strategis untuk menstabilkan harga di pasar.
#beransurmedia #pedagang #sapi #kotabekasi #bekasi #mogok #unjukrasa #demo #mahal beransur.com
