Beransur, Bekasi 22 Januari 2026 – Bayangkan sebuah dunia di mana rak supermarket bukan lagi tempat mencari makan, melainkan museum debu. Angin bertiup kering melewati hamparan sawah yang kini hanya menjadi padang ilalang liar. Suara cangkul yang dulu membelah kesunyian fajar telah lama senyap, menyisakan luka pada tanah yang tak lagi tersentuh benih.
Dunia sedang menyaksikan runtuhnya peradaban modern, bukan karena perang nuklir atau wabah penyakit, melainkan karena hilangnya sosok paling fundamental dalam sejarah manusia: Petani.
Pada mulanya, masyarakat perkotaan menanggapi krisis ini dengan sikap apatis yang berbahaya. Mereka percaya bahwa selama saldo di bank masih mencukupi, makanan akan selalu tersedia di balik kemasan plastik. Namun, hukum alam berkata lain. Perlahan, rak-rak pasar mulai kosong. Beras, jagung, sayur semua lenyap. Harga makanan naik setinggi langit, dan uang tak lagi berguna karena tidak ada yang bisa dimakan.
Pemerintah di seluruh dunia mencoba menciptakan makanan buatan, tapi gagal. Manusia lupa satu hal penting: tidak ada teknologi yang bisa menggantikan kerja tangan petani.
Kelaparan hebat memaksa jutaan orang meninggalkan kenyamanan gedung pencakar langit. Terjadi migrasi besar-besaran dari kota menuju desa, hutan, dan pegunungan. Manusia dipaksa untuk kembali ke insting purba mereka.
Anak-anak yang dulunya fasih mengoperasikan layar sentuh kini harus belajar membedakan umbi beracun dengan tanaman liar yang bisa dimakan. Rumah-rumah batu ditinggalkan. Manusia hidup dalam kelompok kecil, berpindah-pindah (nomaden), berburu, dan meramu demi bertahan hidup satu hari lagi Peradaban yang kita banggakan selama ribuan tahun tampak kembali ke zaman prasejarah hanya dalam hitungan dekade tanpa adanya kedaulatan pangan.
Namun, di tengah keputusasaan, sebuah keajaiban kecil muncul. Di sebuah lembah terpencil, seorang anak kecil ditemukan sedang merawat sesuatu yang sudah dianggap mitos: sebutir biji padi kering.
Biji itu adalah warisan terakhir dari kakek-buyutnya yang dulu seorang petani. Dengan tangan mungilnya, ia menanam biji tersebut di tanah lembap dekat sungai. Setelah berminggu-minggu dalam penantian, sebuah tunas hijau kecil muncul menembus tanah.
Momen sederhana ini menjadi titik balik bagi sisa-sisa umat manusia. Tunas itu bukan sekadar tanaman; itu adalah simbol kembalinya harapan. Dari tangan seorang anak, profesi mulia bernama “Petani” lahir kembali.
Kisah ini menjadi pengingat pahit bagi kita yang masih hidup di masa sekarang. Kemajuan teknologi sehebat apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan peran manusia yang bersentuhan langsung dengan bumi.
”Selama manusia masih memiliki kemauan untuk menanam dan merawat bumi, kehidupan tidak akan pernah benar-benar hilang.”
Dunia tanpa petani bukanlah kemajuan, melainkan kepunahan yang tertunda. Mari mulai menghargai setiap butir nasi yang ada di piring kita hari ini, sebelum semua itu hanya menjadi dongeng bagi anak cucu kita.
#beransurmedia #tanampohon #petani #bijipadi #padi #beras #tanaman #pangan #tumbuhan #pohon
