Beransur, Jambi, 15 Januari 2026 – Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Mengawali tahun 2026 yang seharusnya penuh dengan optimisme “Generasi Emas”, sebuah insiden brutal justru merobek kalender pendidikan di Provinsi Jambi. Seorang guru bernama Agus Saputra dikeroyok oleh puluhan siswanya sendiri di lingkungan SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur pada Selasa, 13 Januari 2026.
Insiden bermula saat jam pelajaran masih berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Agus Saputra yang tengah melintas di depan sebuah kelas mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan oleh salah seorang siswa dan sempat direkamnya.
“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakkan kata-kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya kepada wartawan Rabu (14/1/2026).
Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan hal itu.
“Kemudian, saya masuk ke kelas, saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,”tuturnya.
Sebagai bentuk pendisiplinan, Agus memberikan teguran yang berujung pada tindakan fisik berupa tamparan.
“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia, itulah kejadian awal,” ujar Agus
Namun, situasi dengan cepat kehilangan logika. Alih-alih mereda, teguran tersebut memicu ledakan emosi massal. Dalam hitungan detik, puluhan siswa merangsek maju, menyerbu Agus dari berbagai arah. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu mendadak berubah fungsi menjadi arena laga yang terekam jelas dalam video amatir yang kini viral di media sosial.
Menghadapi serangan bertubi-tubi, Agus Saputra menunjukkan reaksi fight yang luar biasa. Ia tidak lari; ia bertahan dan membalas setiap pukulan serta dorongan demi menjaga martabat dan keselamatannya.
Saksi mata menggambarkan kejadian tersebut layaknya film laga tanpa koreografi brutal, kacau, dan penuh makian. Agus akhirnya terdesak hingga ke ruang guru, yang menjadi benteng pertahanan terakhirnya. Di sana, rekan-rekan sesama guru mencoba melerai kerumunan siswa yang sudah kehilangan kendali.
”Napasnya naik turun, dadanya berguncang. Ia berdiri menatap murid-muridnya dengan tatapan kecewa yang jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik yang ia terima,” tulis narasi yang beredar menggambarkan kondisi Agus usai kejadian.
Pasca kejadian, muncul berbagai versi cerita. Dalam video klarifikasi, muncul tuduhan bahwa Agus telah menghina siswa kurang mampu dan membawa senjata tajam jenis celurit ke sekolah.
Tuduhan ini dibantah keras oleh Agus. Ia menjelaskan bahwa keberadaan benda tajam tersebut bukan untuk mengancam atau menyerang, melainkan upaya terakhir untuk membubarkan kerumunan massa yang mencoba mencelakainya sebuah respons survival (bertahan hidup) saat sistem keamanan sekolah gagal melindunginya.
“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, memang tersimpan rapi,” katanya, Rabu (14/01/2026).
Dia beralasan menggunakan senjata tajam dan mengejar pelaku pengeroyok hanya untuk menggertak saja.
“Kenapa saya pakai itu? Hanya untuk mengeretak mereka agar bubar seperti itu. Tidak ada niat lain untuk selain itu,” ujarnya Agus menegaskan, dirinya melakukan hal itu hanya untuk membela diri.
“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ucapnya.
Kemudian kalau tidak seperti itu mungkin ada kejadian buruk lagi yang menimpa saya seandainya saya tidak melakukan hal tersebut,” lanjutnya.
Agus mengatakan, dirinya dilempari batu saat peristiwa tersebut.
“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.
Upaya mediasi telah dilakukan oleh Kepala SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Ranto M., namun hingga saat ini menemui jalan buntu. Agus Saputra yang mengalami luka fisik dan trauma psikologis berat memilih untuk menempuh jalur hukum.
“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Menanggapi hal ini, pihak berwenang mulai bergerak:
Menurunkan tim Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) untuk menyelidiki akar masalah dan menjamin keamanan di lingkungan sekolah.
Polsek Berbak turun tangan melakukan pengamanan untuk mencegah konflik susulan antarpihak.
Tragedi di Jambi ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, melainkan potret rapuhnya psikologi pendidikan kita saat ini. Kasus ini menyoroti beberapa poin krusial:
Minimnya kemampuan siswa dalam mengelola amarah dan rapuhnya otoritas guru.
Bagaimana identitas individu siswa hilang saat berada dalam massa, sehingga mereka tega menyerang sosok yang seharusnya dihormati.
Guru dituntut memiliki kesabaran setingkat nabi, namun seringkali dibiarkan berjuang sendirian saat menghadapi situasi berbahaya.
Terkait hal tersebut, dia masih menimbang untuk melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. Sebab, siswa tersebut masih sekolah dan sudah lama dia didik. Agus berpendapat, keadaan siswa tersebut memerlukan bimbingan secara psikologis.
“Karena saya merinding kalau tanya itu karena mereka sudah lama saya didik. Walaupun bukan anak kandung tapi anak didik,” ungkapnya.
Dia juga menanggapi kabar viral terkait kejadian tersebut. Agus membenarkan dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa.
“Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya.
Sebab itu, dia berharap kasus tersebut ada yang memediasi.
“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.
Sementara, Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi menghimbau pihak sekolah dapat berlaku bijak, dan menjamin pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
#beransurmedia #Disdik #DinasPendidikan #guru #dikeroyok #SMKN3TanjungJabungTimur #RantoM #AgusSaputra #GenerasiEmas #jambi #SMK #sekolah #sekolahan #murid #siswa #siswi #jambi beransur.com
