Beransur, Bojonegoro, 26 Desember 2025 – Sebuah insiden mengejutkan terjadi di kompleks perkantoran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro. Plafon ruang paripurna gedung yang baru saja diresmikan pada tahun 2023 tersebut ambrol setelah wilayah setempat diguyur hujan lebat dengan intensitas tinggi pada Kamis sore.
Hujan deras disertai angin kencang mulai mengguyur wilayah Kota Bojonegoro sejak siang hari. Kondisi cuaca ekstrem tersebut mencapai puncaknya sekitar pukul 16.00 WIB. Menurut saksi di lokasi, suara gemuruh terdengar jelas dari dalam ruang rapat utama sebelum material atap runtuh.
Tak lama setelah suara tersebut, sebagian besar material plafon ambrol ke lantai, mengakibatkan air hujan masuk dengan deras layaknya air terjun dan langsung membanjiri area dalam gedung. Dalam foto-foto yang beredar luas di media sosial, terlihat lubang besar menganga di bagian atap, sementara sejumlah petugas kebersihan dan pekerja tampak berjibaku membersihkan puing-puing bangunan serta genangan air di dekat meja pimpinan sidang.
Ambrolnya atap ini memicu reaksi keras dan kritik pedas dari berbagai lapisan masyarakat. Hal ini dikarenakan gedung DPRD Kabupaten Bojonegoro merupakan proyek prestisius yang menelan biaya fantastis, yakni sekitar Rp77 Miliar. Ironisnya, gedung ini baru seumur jagung karena baru diresmikan dan digunakan secara aktif pada awal tahun 2023 lalu.
Kekecewaan netizen pun tumpah di kolom komentar unggahan berita tersebut. “Sangat disayangkan, gedung semegah ini dengan anggaran puluhan miliar rupiah sudah mengalami kerusakan serius hanya dalam waktu singkat,” ujar salah satu warga yang memantau perkembangan berita di media sosial.
Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini karena saat kejadian ruangan sedang kosong dan tidak digunakan untuk agenda rapat formal. Meski demikian, kerusakan ini dipastikan akan mengganggu jadwal kegiatan kedewanan yang seharusnya dilaksanakan di ruangan tersebut dalam waktu dekat.
Kini, desakan untuk mengusut tuntas kualitas bangunan mulai muncul. Pihak terkait, termasuk Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Bojonegoro, diharapkan segera melakukan investigasi mendalam. Publik menuntut kejelasan apakah kerusakan ini murni disebabkan oleh faktor alam (force majeure) atau adanya indikasi kegagalan konstruksi serta ketidaksesuaian spesifikasi material.
Hingga saat ini, area ruang rapat paripurna masih disterilisasi guna proses pembersihan lebih lanjut dan untuk mengantisipasi adanya reruntuhan susulan yang dapat membahayakan keselamatan.
#beransurmedia #bojonegoro #DPRD #hujan #badai #ambruk #roboh
